Antropologi idealis memahami realitas kebudayaan sebagai aktivitas subjektif sepenuhnya. Pada pengabsolutan postulat keuniversalan relasi-internal. Realitas material hanya ada dalam relasinya dengan kesadaran. Tetapi kemudian karena relasi-relasi internal tersebut dilihat tanpa kacamata historisnya. Maka tidak mungkin ada pengakuan atas kondisi material objektif. Ilmupun sebagai konsekuensinya dibangun untuk arisan antar subjek-intelek. Beserta konstruksi kebenarannya yang disusun secara intersubjektif. Materialisme Marx dibangun untuk ilmu, yaitu materialisme historis. Lewat ilmu materialis historis. Marx ingin membuat konstruksi kebenaran yang tidak seperti yang lain. Lewat penggalian ilmu yang secara objektif maka digunakanlah realisme materialis sebagai objek. Objek yang keberadaan materialisnya terlepas dari ada tidaknya subjek berkesadaran. […]

Tulisan ini sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya. Dimana setelah dipaparkan kritik atas materialisme oleh Marx yang ia tunjukkan dengan keberadaan materialisme pada akhirnya menepis keberadaan manusia sebagai agensi perubahan. Bagaimana mungkin bisa mengubah, jika gerak faktor perubahan sepenuhnya berasal dari eksternal. Pernyataan tadi terdampak karena materialis hanya memahami realitas sebagai objek. Padahal material tersebut tidak dapat mengobjekkan dirinya sendiri. Oleh karena itu kebenaran objektif tidaklah mungkin. Karena yang ada hanyalah kesepakatan antar subjek pengamat. Dan yang berkuasa dapat mengarahkan perubahan adalah mereka yang punya sarana konstruksi kebenaran. Cacat atas materialisme diatas, bertolak belakang dari usaha Marx untuk memahami masyarakat manusia […]