Arti Diskursus Dalam Sosiologi

Diposting pada
upload.wikimedia.org

Diskursus merujuk kepada bagaimana kita berpikir dan mengkomunikasikan tentang orang-orang, benda-benda, organisasi sosial dari sosial, dan hubungan antara disekitar dan diantara kesemua tiga hal tersebut. Diskursus keluar dari institusi sosial seperti media dan politik, dan karenanya memberilan struktur dan perintah terhadap bahasa dan pemikiran, hal itu membentuk dan memerintah kehdupan kita, hubungan kita dengan yang lain, dan sosial. Lalu itu juga membentuk apa yang dapatkita pikirkan dan ketahui dalam waktu tertentu.

Dalam hal ini, sosialog membingkai diskursus sebagai kekuatan produktif karena hal itu membentuk oikiran, ide, kepercayaan, nilai, identitas, interaksi dengan yang lain, dan perilaku kita. Dalam melakukannya, itu memproduksi kebanyakan apa yang muncul dalam dri dan dalam sosial.

Sosiolog melihat diskursus sebagai yang telah tertanam di dalam dan keluar dari hubungan atas kekuasaan, karena control dari institusi –seperti media, politik, hukum, obat-obatan dan pendidikan- mengkontrol formasinya Sebagaimana seperti, diskursus, kekuasaan, dan pengetahuan sangat dekat berhubungan, dan bekerja bersama untuk membentuk hirarki. Beberapa diskursus datang untuk mendominasi yang mainstream(diskursus dominan), dan dianggap benar dan norma,sementara yang lainnya dimarginalkan dan menjadi stigma, dan dianggap salah, ekstrem, dan bahkan berbahaya.

Perluasan definisi

Mari melihat lebih dekat mengenai hubungan antara institrusi dan diskursu ( dari teoris asal Prancis Michael Foucault yang menulis secara produktif tentang institusi, kekuasaan, dan diskursus. Saya mengambil dari teorinya dalam tulisan ini). Institusi mengorganisasi pengetahuan- memperoduksi  komunitas dan membentuk produksi dari diskursus dan pengetahuan, kesemuanya yang mana membingkai dan mendorong bersama oleh ideologi. Jika kita mendefinisikan ideologi secara sederhana sebagai pandangan seseorang akan dunia, yang merefleksikan posisi sosial-ekonomis sesorang di masyarakat, lalu hal itu mengikut bahwa ideologi mempengaruhi formasi dari institusi, dan jenis diskursus yang institusi tersebut buat dan distribusikan.

Jika pandangan adalah ideologi, diskursus adalah bagaimana kita mengorganisasikan dan mengekspresikan pandangan tersebut dalam pikiran dan bahasa. Ideologi selanjutnya membentuk diskursus, dan, sekali diskursus telah tertanam dalam masyarakat, hal itu berubah mempengaruhi reproduksi dari ideologi.

READ  Pengertian Perubahan Sosial Dan Faktor Penyebabnya

Ambilah, sebagai contoh, hubungan antara media mainstream (sebuah institusi) dan diskursus anti-imigran yang menyebar didalam masyarakat U.S. Jumlah besar kata yang mendominasi debat presidensial Republikan tahun 2011 yang dibuat Fox News memperlihatkan diskusi mengenai reformasi imigran, kata yang sangat sering terucap adalah “illegal,” diikuti dengan “imigran,” “Negara,” “ batas,” “illegal,” dan “warga Negara.”

Diambil secara bersama, kata-kata ini adalah bagian dari diskursus yang merefleksikan ideologi nasionalis (batas, warga Negara) yang memperlihatkan U.S dibawah serangan oleh warga asing(imigran) ancaman kejahatan (illegal, illegal). Dalam diskursus anti-imigran, “illegal” dan “imigran” disandingkan terhadap “warga Negara,” setiap hal itu bekerja untuk mendefinisikan yang lain melalui oposisinya. Kata-kata ini memperlihatkan dan mereproduksi setiap nilai khusu, ide, dan kepercayaan mengenai imigran dan warga Negara U.S –gagasan tentang hak, sumber daya, dan kepemilikan.

Kekuatan Diskursus

Kekuatan diskursus terletak dalam kemampuannya untuk memberikan legitimasi untuk beberapa jenis pengetahuan sementara merongrong yang lain, dan, dalam kemampuannya untuk membuat posisi subjek, dan, mengubah orang-orang ke objek yang dapat dikontrol.

Dalam kasus ini, diskursus dominan di imigrasi yang keluar dari institusi seperti lembaga hukum dan sistem legal memberikan legitimasi dan superioritas oleh akar mereka dalam Negara. Media mainstream secara khusus mengadopsi kekuasaan dominan-memperkuat diskursus dan menampilkannya dengan memberikan siaran dan ruang cetak untuk tokoh yang berwenang dari institusi tersebut.

Diskursus dominan di imigrasi, yang dalam hakikatnya anti-imigran, dan diberkati dengan autoritas dan legitimtas, membuat posisi subjek seperti “warga Negara”- orang-orang dengan hak perlindungan _dan objek seperti “illegal”- hal yang Nampak ancaman terhadap warga. Dalam kontrasnya, diskursus hak imigran yang keluar dari institusi seperti pendidikan, politik, dan dari gurp aktivis, menawarkan kategori subjek, “imigran yang tidak terdokumentasi,” dalam tempatnya sebagai objek “illegal,” dan seringkali diperlihatkan sebagai diskursus yang tidak terinformasi lengkap dan tidak dapat dipertanggung jawabkan oleh diskursus yang dominan.

READ  Sosialisme Menurut Marx

Mengambil kasus dari kejadian yang secara rasial di Ferguson, MO dan Baltimor, MD yang terjadi dari 2014 sampai 2015, kita dapat juga melihat artikulasi Foucault dari konsep diskursif saat digunakan. Foucault menulis bahwa konsep “membuat asrsitektur deduktif” yang mengorganisir bagaimana kita memahami dan menghubungkan hal-hal yang terasosiasi dengannya. Konsep seperti “penjarahan” dan “kerusuhan” telah digunakan dalam kedok maninstream media dari pemberontakan yang menyertai pembunuhan polisi Michael Brown dan Freddie Gray. Ketika kita mendengar kata seperti ini, konsep dibebankan penuh akan makna, kita mendeduksi hal tentang orang-orang yang berhubungan—bahwa mereka tidak beradab, gila, berbahaya, dan kasar. Mereka objek criminal yang butuh untuk dikontrol.

Diskursus mengenai kriminalitas, ketika digunakan untuk mendiskusikan para pemrotes, atau mereka yang berjuang untuk hidup setelah terjadi bencana, seperti badai Katrina tahun 2004, struktur kepercayaan mengenai benar dan salah, dan dalam melakukanya, sanksi akan beberapa jenis perilaku. Ketika “criminal” sedang “menjarah”, menembaki mereka di tempat dibingkai sebagai justifikasi benar. Dalam kontrasnya, ketika sbeuah konsep seperti “pemberontakan” digunakan dalam konteks Ferguson atau Bal.timor, atau “survival: dalam konteks New Orleans, kita mendeduksi banyak hal yang berbeda tentang mereka yang ikut andil dan lebih dapat melihat mereka sebagai subjek manusia, tidak sebagai objek berbahaya.

Karena diskursus memiliki banyak makna dan sangat dalam kekuatan pengaruhnya dalam masyarakat, itu sering kali adalah tempat antara konflik dan perjuangan. Ketika orang-orang berharap untuk membuat perubahan sosial, bagaimana kita membicarakan mengenai orang-orang dan tempatnya dalam masyarakat tidak dapat ditinggalkan dari proses.

Terjemahan :

Cole, Nicki Lisa, Ph.D. “What Is Discourse?” ThoughtCo, Jan. 16, 2018, thoughtco.com/discourse-definition-3026070.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *