Gerakan Kejawen Penentang Belanda

Diposting pada
wayang gunung

Kejawen bukanlah sebuah agama ataupun ajaran karena kejawen lebih kepada hubungan antara individu kepada zat ketuhanan. Oleh karena itu kejawen merasuk dan digunakan di dalam agama-agama lain seperti di Islam dan Kristen. Kejawen menganggap bahwa keberadaan yang tidak kasat mata ini dapat mempengaruhi yang kasat mata. Bahwa seorang individu dalam berperilaku haruslah tidak terlalu mengumbar hawa nafusnya. Dengan prinsip itu maka seorang individu bakal bisa berperilaku tanpa pamrih atau memberikan sesuatu tanpa meminta pengembalian kembali.

Untuk mencapai prinsip-prinsip hidup seperti itu yang secara batin berarti damai tenang dan tentram.
Sesuai dengan cara kejawen adalah dengan jalan mendekatkan diri kepada zat Maha Kuasa yang memberi kehidupan. Di agama-agama yang ada cara seperti itu di lakukan dengan beribadah menurut cara-cara yang di haruskan. Dan kejawen yang bukanlah sebuah ajaran tetapi prinsip sehingga tidak bakal melarang cara-cara agama yang ada sehingga kejawen ini dapat digunakan untuk membantu semakin memahami perihal alam dunia ini dan alam-alam yang lain.
Biasanya para orang-orang yang menganut kejawen menggunakan istilah tapa atau semedi dalam melakukan praktek untuk mendekatkan diri dengan Yang Maha Kuasa. Dengan tapa atau semedi ini mereka bisa menenangkan batin mereka dan merasakan hal-hal di sekitar mereka. Bahwa Yang Kuasa berada di sekitar mereka dan dalam mereka juga. Semakin sering mereka melakukan ini dan juga diiringi dengan niatan baik mereka bakal menemukan suatu pencerahan bagi dirinya.
Kejawen ini menjadi sangat populer di saat Indonesia telah memasuki fase pasca kemerdekaannya dan kebanyakan berada di Jawa Tengah. Tidak diketahui faktor-faktor apa yang membuat komunitas-komunitas ini menjadi besar dan banyak pengikutnya. Tetapi komunitas kejawen ini sempat menjadi faham suatu gerakan saat sebelum kemerdekaan,gerakan samin yang berada di suatu desa di blora mempunyai nama seperti itu karena pencetus dan pemimpin gerakan ini bernama samin. Gerakan ini di sebut juga gerakan kebatinan karena menenkankan konsep paham kejawen atau juga kebatinan. Kebanyakan pengikut gerakan ini adalah orang-orang desa yang bermata pencaharian sebagai petani.
Baca Juga:
 
 
 
Samin yang seorang anak seorang bupati juga seorang petani ini mendapatkan cukup pengetahuan tentang pewayangan, politik dll. Awalnya dikarenakan keadaan hidup petani menunjukkan kearah keterpurukan. Pada yahun 1890 gerakan ini muncul yang dipelopori samin dengan jalan menarik para petani-petani dan memberikan mereka pemahaman tentang kebatinan dan kehidupan di sekitar mereka. Awalnya gerakan ini tidak dianggap oleh pemerintahan Belanda tetapi kemudian muncul kebijakan yang membuat turunnya derajat para petani dan pemilik tanah. Hal itu membuat hilangnya prinsip-prinsip jawa mereka dan mulai melakukan perlawanan terhadap Belanda. Dengan jalan tidak ikut menyetorkan padi-padi mereka ke lumbung desa, tidak ikut gotong royong, memisahkan diri dengan petani-petani lain. Lama-kelamaan gerakan ini mendapat perhatian besar oleh belanda dan mulai mengirimkan pasukan keamanan mereka.
Bahkan faham samin ini meluas sampai daerah-daerah lain seperti Kudus dan Madiun. Tapi apalah daya Belanda yang mempunyai pasukan lengkap akhirnya dapat mengalahkan gerakan ini dan menangkap samin kemudian membuangnya ke Padang bersama beberapa pentolan pengikutnya. Tetapi dengan di buangnya samin gerakan ini tetap ada dan melakukan pertemuan kecil-kecilan yang dipimpin tokoh-tokoh lain yang berada di gerakan itu dan ingin tetap melanjutkan perjuangan samin. Tetapi setelah di ketahui meninggalnya Samin di Padang gerakan itu makin lam makin redup dan juga mulai menjadi kehilangan pahamnya karena setiap tokoh yang memimpin mempunyai pandangan berbeda-beda.
Mungkin berawal dari gerakan itu lah kemudian setelah kemerdekaan muncul banyak sekali komunitas-komunitas kejawen atau kebatinan. Tetapi apabila menilik lebih jauh lagi sebenarnya paham ini asli Indonesia dan tidak dibawa oleh orang luar. Tetapi hanya mengalami peleburan, kejawen ini adalah salah satu kearifan lokal yang telah ada sejak dahulu kala sebelum agama-agama luar menyebar di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *