Hakikat Manusia Menurut Para Ahli

Diposting pada
Ranah dalam Filsafat dalam mempertanyakan banyak hal yang mengarah ke hal paling dasar mengenai kepahaman manusia mengenai hakikat manusia sendiri. Oleh karena itu filsafat dibutuhkan oleh orang yang memberikan petunjuk dan konseling. Dalam tulisan ini akan saya paparkan mengenai pandangan tiap ahli filsafat mengenai hakikat manusia. Dan bisa jadi nanti anda jadikan quote.

Hakikat Manusia Menurut Socrates

Pemikir hebat di Yunani yang memberikan sumbangsihnya dengan membantu terbentuknya fondasi filsafat di Barat. Metode yang ia gunakan dan konsep yang ia paparkan telah membantu terbentuknya dunia fisafat barat. Penolakannya terhadap kompromi mengenai integritas intelektualnya membuatnya menghadapi hukuman mati. Pandangan Socrates mengenai hakikat manusia :
Manusia adalah seorang yang rasional. Manusia mungkin bervariasi dalam kemampuan rasionalitasnya, mungkin mereka dapat kekurangan secara mental, atau mungkin mereka malah menolak kerasionalitasan. Tetapi bagaimanapun juga definisi hakikat manusia secara universal tetaplah memegang kebenaran.
Manusia dapat membedakan kebajikan, pengetahuan dari ketidaktahuan.
Manusia dapat mengetahui kebaikan, dari mengetahuinya dia dapat mengikutinya. Untuk kepada orang yang tidak mengenal kebaikan dia akan memilih mengikuti keburukan.

Hakikat Manusia Menurut Plato

 Seorang filsuf dan matematikawan, murid dari Socrates. Pandangan dan metodenya juga telah membantuk terbentuknya fondasi dunia filsafat barat. Ranah pemikirannya sampai kepada, etic, logika, filsafat, agama, retorik dan matematika. Hakikat manusia menurut plato adalah :
Setiap manusia lahir dengan memilki kebutuhan biologis masing-masing.
Tugas paling mendasar dari jiwa manusia adalah untuk mengejar pengetahuan.
Kebutuhan dari jiwa yang menginginkan pemurnian dari badannya, dan jiwa tersebut tidak akan dapat murni sampai dia mati.
Bagian paling rasional dari jiwanya adalah bagian yang dapat mendapatkan kebenaran. Ini adalah tugas dari yang tercerahkan.
Jiwa memiliki tiga bagian, yang mempertanyakan, semangat, dan hasrat.
Jika manusia tidak berkecimpung di dalam sebuah kelompok, dia tidak akan bertahan.

Interaksi sosiallah yang membuat kita benar-benar manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *