Kartini-Kartini Yang Abadi

Diposting pada

kartini-abadi

Di saat waktu yang dianggap telah menjadi modern ini, dimana para wanita telah banyak menjadi lakon-lakon di dunia. Pernah teralami masa-masa dimana diri mereka tidak dipersamakan baik dari segi derajat sosial dan kasta. Apa yang mereka dapat sekarang tidak secara cuma-Cuma, perjalanan mereka melewati alur panjang yang bergelombang untuk menembus selubung mitos dan kepercayaan sekitar mereka. Harapan mereka untuk masa depan mungkin telah beberapa terealisasikan meskipun sang pengharap itu sendiri telah terkubur di dalam tanah. Harapan mereka bakal tetap tumbuh untuk penerus mereka.

Apa yang saya uraikan disini mengenai perjuangan tokoh-tokoh wanita yang mengalami pergolakan batin sehingga menuntut mereka untuk berbuat sesuatu demi kemajuan kelompok mereka dan umat manusia. Seperti yang tertera diatas “untuk umat manusia”. Orang-orang yang saya utarakan nanti adalah wanita-wanita berjasa di negara kita sendiri. Yang telah mengalami kesakitan dalam hidup mereka tetapi mau untuk melanjutkan sebuah perjuangan dan memperjuangkan sesamanya.

Mengapa judulnya kartini-kartini, padahal Raden Ajeng Kartini hanyalah seorang saja. Sekarang menurut saya Kartini telah menjadi sebuah simbol keagungan, simbol perjuangan bukan hanya nama. Perjuangan melawan penindasan demi persamaan. Jauh sebelum feminis kenamaan di Prancis “Simone de Beauvoir” menerbitkan bukunya “The Second Sex” yang kemudian mendorong munculnya aktifis-aktifis feminis di seluruh dunia. RA Kartini lebih dahulu membahas lewat penulisan disuratnya kepada teman-temannya mengenai kaumnya, “apakah seorang wanita itu?”. Lewat pertanyaan itu yang menunjuk sebenarnya bagaimanakah wanita itu. Dan dari situ saya tunjukkan wanita-wanita yang telah begitu mencolok di masa lalu dan menjadi pengubah pandangan kaum wanita di masa sekarang.

Baca Juga : Buku-Buku Yang Membentuk Dunia

RA Kartini

Lahir dari keluarga bangswan di Jepara sana, Ayahnya yang boleh saya sebut juga sebagai salah satu orang pembentuk perubahan di negeri ini. Sang ayahanda menganggap bahwa kekalahan kita terhadap Belanda itu bukan cuma soal senjata dan kekuatan tentara. Lebih kepada menurut dia mengenai edukasi dan itu ia turunkan pada anak-anaknya. Darisanalah Kartini kemudian mengenal sebuah perbedaan, antara kaum wanitanya dan kaum-kaum di luar negeri sana. Bagaimana wanita-wanita diluar sana dapat berpendapat sebebasnya dan berlaku sama dengan para kaum pria.

Ada yang kadang mengatakan Kartini terlalu berharap dan iri pada kehidupan wanita di luar negeri sana, padahal di depan rumahnya sedang dibangun jalan raya anyer-panarukan yang memakan terlalu banyak korban jiwa yang juga terutama kaumnya sendiri. Kartini tidak akan bisa merasakan kelelahan raga para pekerja jalan itu.

Mungkin begitu tetapi setiap orang memiliki perjuangan dengan cara masing-masing, dengan Kartini dia berusaha meluangkan pemikirannya dan menulisnya dalam sebuah bentuk surat yang dikirimkan kepada teman-teman penanya di Belanda sana. Dengan jalan itu Hindia-Belanda saat itu yang menjadi nama negeri kita, menjadi perbincangan di forum internasional di Eropa. Bahwa kaum rakyat di rumah sendiri dibuat bekerja tanpa lelah. Serta kebudayaan yang menonjolkan pada kekuatan kaum patriarki menekan yang bawah. Dan  kaum wanitanya pun dikekang dengan adat dipasung di dalam rumah sebagai hak milik seorang suami, seperti barang.

Karena surat-suratnya itu, forum Internasional di Eropa sana semakin menekan kebijakan pemerintah Hindia-Belanda. Dan curahan-curahan hati Kartini itu berasal dari pengalamannya sendiri. Bayangkan beban dan sakit yang ia tanggung saat mengetahui bahwa dunia itu masih seluas jagat raya, dengan wanita-wanita sesama dirinya dapat bergerak leluasa di Eropa sana, sementara dia harus dipasung di dalam rumahnya tanpa bisa menikmati sesuatu apapun untuk mengekspresikan apa yang ia ketahui untuk disebarkan kepada kaumnya di tanah sendiri.

Simone De Beauvoir yang membuat buku berdasarkan pada perasaanya mengenai “apakah wanita itu?”. Dan Kartini ada sebelum Simone De Beauvoir, De Beauvoir mengekspresikannya dengan membandingkan keminoritasan wanita sama dengan penindasan kaum kulit hitam di Amerika, penindasan terhadap Yahudi ketika itu dan kaum-kaum lain yang tertindas. Tertindas saat yang lain selain kaumnya boleh melakukan hal sesuka hati sementara kaumnya sendiri wanita harus berbuat sesuai apa yang telah dikehendaki dan dicamkan masyarakat.

Kartini telah mengatakannya sebelum itu. Meskipun perbedaannya tidak hanya mengenai waktu, Kartini hanya dapat mengekspresikan kegundahan batinnya lewat tulisan dan pemikiran. Karena apa yang ia bisa perjuangkan hanyalah lewat itu saja. Untuk menjadi seorang pengajar saja tidak diperbolehkan, beban batin itu ia tanggung selama ia hidup hingga menuju ke liangnya diumur semuda 24 tahun.

Tetapi atas jasanya dia berhasil membuat sebuah sinar yang menerangi kegelapan. Bahwa ada yang salah di sistem sosial dunia kita ini saat itu. Dan itu perlu diubah untuk menjadi maju karena tulisan-tulisan Kartini kemudian disebarluaskan. Dia dengan tanpa mempedulikan kondisinya yang sama dengan wanita lainnya berpikiran kedepan menampar dunia dengan curahan hatinya sendiri. Meski Kartini sudah tidak lagi hidup, beliau akan tetap menjadi simbol harapan yang menuntun menuju titik cahaya di kegelapan.

Baca Juga : Panggil Dia Pram Saja

Cut Nyak Dhien

Mundur ke sebelum Kartini mulai menelurkan gagasan-gagasan dan curahan hatinya. Negeri ini kemunculan seorang pejuang yang berjuang dan berani mengangkat senjata memimpin pasukannya, dan ia wanita bernama Cut Nyak Dhien. Lahir dari keluarga yang tergolong bangsawan dengan lingkungan agama yang kuat. Sedari kecil beliau banyak mendapatkan didikan agama dan tugas-tugas sebagai wanita. Diumur 12 tahun Cut Nyak Dhien menikah dengan Teuku Cek Ibrahim Lamnga putra dari Uleebalang Lamnga XII, seorang pejuang medan garda depan Perang Aceh pertama. Tetapi kemudian selang beberapa waktu setelah serangan gencar-gencaran Belanda ke Aceh lagi setelah kekalahan pertama itu. Suaminya meninggal dan meninggalkan luka yang akan menebar kesuliatan pada Belanda.

Di kehidupannya saat itu Cut Nyak Dhien mau meninggalkan tugas wanita yang sudah diajarkannya sedari kecil. Di dipersunting oleh Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien mau dengan syarat ia boleh ikut terjun ke medan perang. Dan secara mengejutkan Teuku Umar membolehkan Cut Nyak Dhien turun ke medan perang melawan Belanda. Cut Nyak Dhien bukan hanya mau tetapi juga ingin membela kaumnya setelah kepedihan dan amarah yang ia rasakan saat suami sebelumnya tewas di medan perang oleh Belanda. Meski ia seorang wanita.. dia mau berperang.

Dan untuk kedua kalinya ia ditinggal sang suami yang juga gugur di medan perang, Teuku Umar telah gugur dengan gagah berani dan juga oleh Belanda. Ia tidak kemudian larut atau bersedih, dia tetap bergerak dan ia sunggi beban kepemimpinan pasukan yang ditinggal oleh suaminya itu. Dia tak takut, jika mau.. dia bisa saja memilih untuk bersembunyi di hutan seperti wanita-wanita yang lain. Tetapi dia paham, ada tanggung jawab yang harus diembang selepas suaminya itu tiada. Dan dengan tanpa suruhan atas kesadaran sendiri dan setelah semua yang ia alami ia membawa beban itu.

Seorang wanita menjadi pemimpin pasukan, kisahnya patut di heroikkan menjadi film sama seperti pahlawan wanita Prancis yang mati di tiang pembakaran “Jean de Arc”. Di hutan-hutan dia komandokan pasukannya tetap terus bergerilya. Meskipun mereka lebih superior dia tetap berjuang agar tidak tertindas di tanah sendiri. Dan menjadi merdeka.

Tetapi tak ayal meskipun atas usahanya dan beban yang telah ia taruh di pundaknya itu, sepertinya Tuhan belum mengijinkan rakyat Aceh mendapatkan kejayaan. Karena akhirnya Cut nyak Dhien tertangkap dan diasingkan.Tak bisa dibayangkan betapa amarah yang ia keluarkan ketika ia ditangkap saat itu dan dengan berani masih berdiri dihadapan penindas-penindas itu.

Setelah apa yang ia alami, perjuangannya tidaklah sia-sia. Sebagai wanita dia berani memimpin pasukan yang kebanyakan laki-laki. Sebagai wanita dia memiliki pilihan untuk bersembunyi. Akan tetapi dengan begitu marah dia tetap berani dan berdiri menentang Belanda.

Baca Juga : Simbol Feminisme Purba

Dewi Sartika

Dewi Sartika lahir di Bandung dari keluarga bangsawan Sunda. Jika Kartini berjuang untuk masa depan kaum wanita dengan membuka pikiran mengenai persamaan, Cut Nyak Dhien berjuang dengan menunjukkan bahwa wanita juga bisa memimpin asalkan mau. Dewi Sartika berjuang untuk kaum wanita dengan jalan pendidikan.

Sejak kecil beliau selalu menjadi sosok yang mau mengajarkan dan membagi ilmunya kepada siapa saja. Dan keinginan untuk mencari ilmu begitu tinggi ada pada dirinya, melebihi laki-laki lainnya di saat itu. Meski tinggi ilmu yang beliau tuntut, dia tetap tidak lupa bahwa asalnya, rumahnya sendiri membutuhkan sekali ilmu tersebut.

Atas keinginnannya didirikanlah sekolah isteri.Sekolah yang mengajarkan baca, tulis dan ketrampilan wanita lainnya serta agama. Dia dengan tinggi ilmunya setelah menuntut ilmu sampai Belanda tetap kembali dan membangun negeri. Atas keinginannya sendiri berdasarkan kesadarannya akan pentingnya ilmu untuk orang-orang rumahnya.

Dan atas inspirasinya itu sekolah-sekolah untuk kewanitaan ditempat lain didirikan. Karena dari kesadaran Dewi Sartika untuk kemajuan saudara-saudaranya. Meski tidak menggunakan senjata dia adalah salah satu tokoh pendidik pencerah bangsa ini. Atas kemauannya dia telah membuat orang-orang sekitarnya dapat keluar dari belenggu tugas-tugas wanita di dalam rumah saja. Dan membuat mereka berkesadaran sebagai manusia, mencari ilmu itu sangatlah teramat penting meski ia seorang wanita.

Baca Juga : Manfaat Mempelajari Sejarah

Marsinah

Marsinah adalah salah satu buruh di PT Catur Putra Surya di Porong, Sidoarjo. Saat Marsinah bekerja di sana, ada surat edaran dari Gubernur Jawa Timur untuk menaikkan upak pekerja buruh sebanyak 20% dari gaji pokok. Tetapi pihak PT Catur Putra Surya menolak menaikkan upah tersebut sesuai surat edaran karena dianggap akan membebani pabrik.

Buruh-buruh kemudian berdemontrasi di pabrik menuntut agar dinaikkan upah tersebut karena sudah menjadi kewajiban PT Catur Surya Porong. Rapat-rapat dan diskusi diantara para buruh pun dilaksanakan membahas tuntutan tersebut. Marsinah adalah salah satu buruh yang mengikuti demontrasi dan menjadi perwakilan perundingan tuntutan dengan pihak PT. Tetapi tetap saja pihak PT tidak mau menaikkan upah buruh pabrik. Sampai pada 5 Mei 1993 13 buruh yang dianggap menghasut buruh lainnya digiring ke Kodim Sidoarjo tanpa Marsinah ikut. Disana ke-13 buruh itu dipaksa untuk mengundurkan diri dari PT CPS. Karena tidak ikut ke Kodim Marsinah mengunjungi Kodim itu untuk melihat keberadaan rekan-rekannya. Setelah itu jam 10 malam Marsinah lenyap. Dan ditemukan tewas dengan mengenaskan di hutan dusun Jegong, Wilangan. Berdasarkan autopsi Marsinah tewas dengan banyak luka disekujur tubuhnya dan sempat juga diperkosa.

Dan disanalah terlihat kejinya manusia dapat menjadi. Surat perintah edaran dari Gubernur Jawa Timur itu seharusnya menjadi hukum yang wajib dilaksanakan oleh pihak PT. Buruh pabrikpun benar apabila menuntut karena itu adalah hak mereka dan mereka memiliki perlindungan hukum atas kebenarannya.

Marsinah masih berani mendatangi tempat dimana rekan-rekannya ditawan itu. Dia ingin mengetahui keadaan kawan-kawannya dan kemudian malah dia yang dibunuh oleh siapa juga tidak diusut. Cut Nyak Dhien yang menentang Belanda dengan berperang tidak sampai dibunuh dan disiksa fisiknya oleh Belanda. Sementara sebangsanya sendiri itu dengan tega menganiaya Marsinah. Apa yang telah diperjuangkan Marsinah dibayar dengan nyawanya. Dan pelaku sampai sekarang tidak diusut tuntas, terhenti oleh siapa yang tahu. Disini terlihat bahwa meskipun penjajah sudah tidak ada tetapi penindas-penindas itu masih berkeliaran dengan tertawa-tawa. Ketakutan apa yang muncul pada benak binatang-binatang itu hingga membunuh seorang wanita.

Sebenarnya atas dasar apa mereka membunuh Marsinah. Dia memperjuangkan hak rekan-rekannya. Dan itu atas dasar kebenaran. Dibahas disini perjuangan Marsinah karena dia telah menjadi agung dan bagian dari simbol itu sendiri. Dia pemberani dan penuh kasih. Jika mau, saya utarakan lagi kalimat yang menunjukkan pilihan. Jika mau Marsinah bisa saja tidak ikut menjadi perunding dengan pihak PT. Bisa saja… Apa yang mendorong Marsinah dengan berani melakukan itu semua sebagai seorang wanita. Karena dia sadar atas ketertindasannya dan posisi orang-orang yang menindas itu. Dan dia tahu kebenaran, dan tanggung jawab dan rasa sekawan seperjuangan dengan teman-temannya yang telah digiring membuatnya lupa akan takut lupa akan kekuatan penindas dan segalanya dia mau menyusuri jalan menuju ke gelapnya pemikiran dan kemanusiawian penindas-penindas itu. Dia memiliki rasa memiliki terhadap rekannya. Semoga anda tenang disana tanpa penderitaan dan kesakitan dari apa yang telah anda perjuangkan. Akan tidak dilupakan dan dikenang perjuangan anda.

Baca Juga : Revolusi Kaum Proletar di Rusia

 

Sebenarnya masih teramat banyak lagi Kartini-Kartini lain yang sepatutnya tersebutkan. Sedari ulasan diatas itu mungkin dapat menginspirasi bahwa seorang wanita mempunyai hak yang sama dan memiliki pilihan yang sama. Dan itu semua tergantung pilihan sendiri-sendiri. Tetapi saya yakin dari Kartini-Kartini diatas tidak mungkin ada yang telah menyesal memperjuangkan apa yang telah ia percayai karena itulah panggilan hidupnya setelah apa yang mereka alami dan mereka menyanggupi beban itu. Makanya disebutkan penggalan kalimat pembuka jika mau… karena itu semua berdasarkan pilihan dan pilihan itu telah dijalani oleh Kartini-Kartini diatas. Bunga yang tak layu… Perjuangan beliau-beliau semua tidaklah sia-sia karena mereka mempercayai itu kebenarannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *