Materialisme Karl Marx Dengan Pandangan Antropologi Budaya

Diposting pada
www.henrimatisse.org

Salah satu usaha antropologi adalah memahami manusia dan masyarakatnya. Dan Marx dengan materialisnya mencoba untuk memahami gerak-gerak yang mendasari adanya masyarakat itu sendiri. Materialis adalah pandangan filsafat bahwa hakikat terdasar adalah materi. Tetapi urusan yang dibahas Marx bukanlah realitas ini dari materi atau roh, tetapi lebih pada hakikat terdasar dari realitas yang oleh para antropolog disebut dengan “masyarakat manusia”(PPTTAM, 32). Oleh karena itu penjabaran usaha Marx untuk memahami manusia adalah melalui materialisme antropologis.

Premis Pertama

Untuk dapat memahami ini, terdapat premis pertama yang terlebih dahulu dimasukkan yaitu “semua sejarah manusia ialah keberadaan individu-individu yang hidup”. Serta untuk hidup atau bisa dikata lain beraktivitas sehingga hidup itu manusia memerlukan asupan dari realitas material. Seperti makanan dan udara dan lain sebagainya. Hubungan manusia dengan realitas-material itu adalah eksternal-asimetris karena diluar kendali kebudayaan serta tidak dapat dibolak-balikkan. Contoh kasusnya adalah manusia membutuhkan oksigen untuk hidup tetapi tidak dapat sebaliknya. Oksigen tidak membutuhkan manusia untuk ada.

Premis pertama diatas masih memiliki kesamaan dengan jalur pemahaman materialis lain seperti sosiobiologi dan ekologi-budaya. Jika dalam sosiobiologi segala wujud pranata sosial yang ada adalah reaksi adaptif biologi manusia. Sehingga yang menetukan rupa dan dinamika masyarakat adalah individu manusia sebagai makhluk biologis. Seperti wayang yang digerakkan oleh dalanh nir-pribadi bernama proses-proses evolusi biologis. Sementara jika ekologi budaya adalah wujud adapatasi manusia terhadap lingkungan alaminya.

Dalam pandangan Marx, dua pandangan diatas adalah bentuk dari materialisme mekanis seperti filsafat materialisme yang diajarkan Feuerbach. Kritikan itu muncul karena hanya meng-objektifkan material. Berarti daya-manusia tidak akan mampu mengubahnya dan mendukung status quo. Aktifitas manusia sendiri dalam usahanya dalam mengobjektifkan realitas-material tidak dimasukkan sebagai aktivitas objektif.

Karena hanya mengobjektifkan realitas material. Pemahaman tersebut dapat menjadi idealisme terselubung. Karena setiap pengobjektifan memerlukan subjek yang ada untuk memberikan objek itu tempat. Maka sejatinya yang hakiki ialah subjek dengan pengetahuannya akan objek, bukan objek itu sendiri. Sehingga pengkontruksi kebenaran hanyalah yang memiliki kuasa untuk mampu menyebarkan kontemplasi subjek akan objek tersebut. Padahal kontemplasi subjek akan objek adalah berbeda-beda tiap subjeknya. Pada akhirnya seperti terbilang jika bentuk ini adalah idelisme terselubung.

Kemudian salah satu kasus didalam kebudayaan yang mengkritik dua paham diatas adalah. Mengapa disuatu daerah yang memiliki kondisi lingkungan dan teknologi yang relative sama memiliki sistem kekerabatan dan praktik budaya yang begitu berbeda.

Premis Kedua

Kemudian untuk mengetahui perbedaan materialisme Marx dengan materialis mekanik adalah dengan premis kedua ini. “Untuk memenuhi syarat-syarat material keberadaanya, manusia harus memproduksinya secara sosial,  tidak secara alamiah”(Capital, Karl Marx, hlm 177-178). Karena relasi manusia dalam memahami realitas material adalah secara tidak langsung tetapi melalui representasi/ perlambang-perlambang. Untuk memungkinkan keberadaan sosialitas manusia. Manusia memerlukan perlambang-perlambang tersebut. Tanpa sosialitas, manusia tidak memerlukan perlambang untuk mengorganisasikan realitas dalam mengkomunikasikan realitas itu dengan sesamanya.

Dalam berproduksi yang diorganisasi secara sosial ada titik dimana realitas determinasi eksternal dari realitas material (realitas material berubah) terhenti sehingga muncullah relasi sosial internal di dalam realitas kebudayaan untuk mengkondisikan rupa dan dinamika relasi manusia dengan realitas material tersebut. Maka produksi adalah jembatan yang menghubungkan antara realitas material dan realitas kebudayaan yang dipadati perlambang-perlambang karena dalam produksi terdapat peran kerja dan alam yang saling mengisis tanpa dapat dipisahkan.

Dalam mengunduh dari alam untuk memenuhi kebutuhan manusia. Aktivitas produksi dilakukan untuk menghasilkan sarana hidup yang dibutuhkan, tetapi harus terdapat adanya realitas material (objektif material). Yang kemudian diubah melalui aktivitas produksi tersebut. Cara untuk diubahnya realitas material tersebut berikut daya-daya alaminya adalah dengan campur tangan masyarakat. Seperti penyerahan konsentrasi tenaga kerja terhadap suatu materi dan lain-lain. Yang hukum untuk melakukan itu berasal dari ranah realitas kebudayaan. Karena hanya melalui kebudayaanlah “reaksi-reaksi material” antara manusia dan alam diorganisir dan dikendalikan.

Sehingga saat manusia lahir ke dunia dia sudah terikat dengan relasi-relasi yang secara historis telah terlebih dahulu ada. Dan pandangannya kedepan dikondisikan oleh hal tersebut. Tetapi meski diluar kehendak mereka, esensi produksi tidaklah sejak awal ada. Karena relasi adalah produk historis yang memiliki dua kaki dimana yang satu menapak ke realitas materi dan yang lain menapak ke realitas kebudayaan(PPTTAM, Catatan kaki, hlm 48). Dapat dipahami juga realitas materi tersebut adalah material tersebut dapat dipergunakan atau tidak sampai seberapa bergunanya/ penggalian akan materi tersebut. Oleh karena itu terdapat relasi historis/waktu.

Dalam relasi kekuatan produktif dengan waktu. Atau hasil kekuatan produktif dari pengerahan energinya yang telah termaterialkan dari kondisi produksi sebelumnya. Perubahan adalah keniscayaan yang senantiasa. Kemudian mengondisikan sekaligus dikondisikan oleh relasi-relasi produksi pada alam kemasyarakatan. Tetapi juga terbatas, realitas material mengondisikan kemungkinan pilihan aktivitas dan kekuatan produktif yang digunakan untuk menggalinya. Pada sisi lain, relasi-relasi sosial produksi dalam realitas kebudayaan bisa mempengaruhi realitas material melalui kekuatan produktif sebagai perantara meski tidak secara niscaya dan pengaruhnya berlaku sejauh dimungkinkan oleh hukum-hukum dalam realitas material.

Pengondisian itu menjadi landasan relasi-relasi internal ditempat lain yang berhubungan dengan aktivitas produksi karena pada dasarnya tidak mungkin ada masyarakat manusia daapt hidup hanya dengan sekedar perintah atau konsepsi kenyang saja. Juga relasi kebudayaan turut mempengaruhi bentuk-bentuk aktivitas produksi dan perkembangan kekuatan produktignya melalui intervensinya terhadap relasi produksi seberapa banyak, bagaimana cara produksi dan lain-lain.

bagan relasi realitas keudayaan dan material
Infografis

Bukti jika materialisme Marx tidak sama dengan materialisme mekanis. Karena terdapat peran nyata manusia yang tidak hanya sebagai proses mekanis serta adaptasi saja. Tetapi kesadaran sosial yang dapat juga berdampak.

“Struktur relasi-relasi tertentu yang menata atau mengorganisasi perilaku individu-individu sosial yang keberadaannya mensyaratkan adanya relasi eksternal dengan realitas material melalui aktivitas produksi dan reproduksi syarat-syarat material keberadaannya yang berperantakan kekuatan-kekuatan produktif (Capital Vol III, 798)

Bukan berarti Marx mengabaikan aspek-aspek kebudayaan yang tidak berhubungan langsung dengan realitas material. Karena hubungan yang melalui representasi atau perlambang tersebut ternyata juga berperan melambangkan kondisi material keberadaannya yang kemudian penggalian akan material tersebut. Seperti wacana politik,sistem hukum, diskursus dll. Hal itu tidak mungkin mengada tanpa aktivitas produksi dan reproduksi sebagai syarat-syarat material keberadaan manusia hidup.

Oleh karena itu materialis mekanis tidak memberikan tempat terhadap agensi-agensi perubahan yaitu manusia. Yang oleh Marx ditambahkanlah prinsip lain yaitu dialektika sebagai tempat untuk ruang aktif manusia.

Dapat dipahami dan dapat disimpulkan sebagai pijakan pemahaman apabila lewat pandangan semua peran manusia dalam kegiatan keatifannya baik penelitian suatu materi tertentu dan lain sebagainya adalah dapat terpengaruh dari sarana kegiatan produksi sebagai basisnya. Sehingga lewat pemahaman ini aspek seluruh masyarakat dapat memahami bila jika ingin melakukan sesuatu dapat dipahami dari mana dan dari mananya saja dia bisa melakukan hal itu.

Bahkan antropolog pun dalam melakukan penelitian dibidangnya tidak bisa melepaskan dari akumulasi kapital yang membuatnya dapat melakukan penelitian tersebut. Tidak hanya itu saja. Tetapi lewat pemahaman materialis Marx ini selain yang dari pandangan materialis lain seperti lewat sosiobiologi maupun ekologi-sosial yang hanya membuat status manusia pasrah menerima tetapi tidak juga menjelaskan salah satu kasus yang terjabar diatas seperti dimana tempat yang memiliki ekologi sama dan teknologi sama memiliki praktik kebudayaan serta sistem kekerabatan yang berbeda.

Dapat dilihat apabila dalam mengkomunikasikan adalah hal yang mutlak harus. Jika dalam berkegiatan produksi material untuk kebutuhan sosial masyarakat perlu menyimbolkan atau merepresentasikan benda-benda yang akan diproduksi tersebut agar kegiatan produksi dapat terlaksana. Dan kegiatan penyimbolan ini tentunya berbeda-beda disetiap wilayahnya tergantung agen-agen manusia yang menggambarkannya. Di tulisan saya yang lain hari dapat dilihat jika setelah membaca ini. Jika disana saya mereduksi sedemikian rupa hingga dapat dianggap tulisan tersebut adalah salah satu bentuk ekologi-sosial.

*Tulisan ini rangkuman dari buku Pengantar Pemikiran Tokoh-Tokoh Antropologi Marxis yang sesuai dengan apa yang dibahas dalam tulisan.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *