Medang Kamulan di Grobogan

Diposting pada

Kisah Prabu Dewata Cengkar

Alkisah, Prabu Dewata Cengkar berhasil mendirikan kerajaannya sendiri lewat tanah yang diberikan oleh Raja Kerajaan Galuh. Kerajaan Prabu Dewa Cengkar tersebut menjadi besar dan berhasil menandingi kerajaan Galuh. Meskipun kerajaannya besar, Prabu Dewata Cengkar memiliki tabiat buruk, yaitu senang memangsa rakyatnya sendiri. Rakyatnya hidup dalam ketakutan akan Rajanya sendiri. Hingga muncul seseorang bernama Ajisaka yang berasal dari daerah sebelah barat sana. Ajisaka menyamar menjadi seorang yang akan dimangsa Prabu Dewata Cengkar. Sesaat Prabu Dewata Cengkar akan memangsanya, Ajisaka meminta satu permintaan sebelum dia memangsa dirinya. Yaitu untuk membuka sorbannya di sebuah tempat yang lapang. Prabu Dewata Cengkar pun menyanggupinya dan membuka sorban Ajisaka di sebuah tempat yang lapang. Tanpa diketahui Prabu Dewata Cengkar, sorban itu seperti tidak mempunyai ujung, gulungan-gulungan itu tidak ada habis-habisnya. Lama-kelamaan gulungan-gulungan sorban tersebut sangat banyak sekali hingga menghempaskan Prabu Dewata Cengkar ke Laut Selatan dan dia berubah menjadi Buaya Putih. Setelah menjadi Buaya Putih, Prabu Dewata Cengkar kemudian dibunuh oleh anak Ajisaka yang bernama Jaka Linglung.

Paragraf diatas adalah sekilas cerita yang saya baca di Rumah Fosil Banjarejo, Gabus, Grobogan. Menurut penjaga disitu tulisan itu dibuat oleh seorang ahli bgitu katanya. Apakah Ajisaka yang berada di cerita itu sama dengan yang berada di cerita aksara jawa?. Apakah Ajisaka itu memang benar adanya ?. Yang menarik adalah desa tempat Rumah Fosil itu berada, Banjarejo. Desa itu sejak tahun-tahun lalu telah menjadi objek penelitian menarik oleh para kalangan peneliti. Dari penemuan-penemuan yang ada di rumah fosil tersebut dan tulisan-tulisan berita di internet yang membahasnya mengatakan bahwa Banjarejo adalah tempat di mana beberapa tipe-tipe corak kehidupan pernah ada, berdasarkan temuan Gading gajah purba yang besar, saya sudah melihatnya di Rumah Fosil tersebut, tetapi sayang foto yang saya simpan hilang. Lalu ada pecahan keramik dari abad-abad masa klasik indonesia, dan juga penemuan-penemuan yang di percaya sebagai bagian dari kerajaan Medang Kamulan yang Rajanya Prabu Dewata Cengkar.

Medang Kamulan Yang Mana?

Disini saya hanya ingin membahas tentang penemuan-penemuan dan juga tempat itu yang di percaya sebagai Medang Kamulan. Tetapi sesungguhnya ada dua kemungkinan juga, karena terdapat dua Medang Kamulan, yaitu Medang Kamulan yang didirikan oleh Prabu Dewata Cengkar di masa yang sama dengan Kerajaan Galuh yang keberadaanya tidak ada bukti fisiknya hanya berdasar mitos yang ada, serta kerajaan Medang Kamulan yang di dirikan oleh Mpu Sindok hasil dari perpindahan wilayah kekuasaan kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur.

Medang Kamulan yang di pimpin Mpu Sindok ini sebenarnya lebih mengarah ke daerah Jawa Timur karena konsentrasi penemuan-penemuan prasastinya berada di daerah sana, sedangan prasasti yang berdekatan dengan daerah Banjarejo ini tidak ada.

Baca Juga:

Misteri Kerajaan Kutai

Perang Diponegoro

Gerakan Samin Penentang Belanda

Medang kamulan yang hasil perpindahan kekuasaan Mataram Kuno di Jawa Tengah ke Jawa Timur ini di pimpin Mpu Sindok, sementara Medang Kamulan yang di katakan orang-orang tentang Banjarejo adalah Medang Kamulan yang di pimpin oleh raksasa pemakan manusia. Benar tidaknya keberadaan Medang Kamulan di Banjarejo, Prabu Dewata Cengkar, Ajisaka dll yang berhubungan masih tetap di sebut mitos karena tidak ada bukti konkrit yang membuktikan. Sedang Medang Kamulan yang di dirikan Mpu Sindok adalah memang benar adanya, tetapi bertempat di daerah Jawa Timur. Tetapi yang pasti adalah pernah ada perkampungan padat atau malah peradaban yang belum pernah muncul ceritanya di permukaan. Karena temuan-temuan yang di temukan sangat-sangat istemewa, temuan-temuan yang membuktikan kalau itu adalah buatan manusia adalah sebagai berikut, berikut juga fotonya:

Temuan Di  Banjarejo

 

 

 

 

 

 

Menarik sekali penemuan-penemuan di daerah sana, bukan cuma pecahan gerabah saja melainkan emas, koin emas, arca dll. Dilihat dari bentuk-bentuknya peninggalannya mungkin memang berasal dari zaman klasik di jawa, tetapi bagian kerajaan apa?, karena temuan-temuan ini tidak menandakan bahwa tempat di Banjarejo adalah perkampungan biasa lewat hasil temuan-temuan tersebut. Mungkin jika di teliti lebih lanjut, sayangnya para penemu benda-benda di banjarejo tidak mencatat data-data yang di perlukan oleh para peniliti lainnya seperti kedalaman tanah di ketemukannya, jenis tanah, lapisan tanah mana dll. Mungkin juga dikarenakan kurangnya tim ahli yang mau ke Banjarejo sini. Mudah-mudahan semakin banyak lagi penemuan yang di temukan disana. Ada satu tempat lagi yang menarik di bahas, di daerah tempat di temukannya banyak emas di sekitar areal sawah, terdapat pohon rindang yang disebut-sebut warga sekitar sebagai kraton, tidak tahu menahu apakah maksud kraton tersebut. Serta terdapat tembok yang berada di dalam tanah sekitar areal tersebut. Emas-emas dan benda lain kebanyakan di temukan di daerah antara tempat tembok tersebut dan kraton tadi.

Sungguh menarik sekali desa terpencil yang tenang ini ternyata menyimpan berjuta misteri. Saya pikir saya cocok kepada Prabu Dewata Cengkar yang memilih tempat ini, karena memang indahnya desa ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *