Menolak Lupa !!. Kasus Hilangnya Benda Bersejarah Museum Sonobudoyo

Diposting pada
sonobudoyo
Pada 10 Agustus 2010, telah terjadi pembobolan di museum Sonobudoyo Jogjakarta. Barang-barang yang hilang yaitu 87 koleksi masterpiece museum Sonobudoyo. Di kemudian hari, melalui Tim Evaluator yang dibentuk oleh Gubernur DIY pada tanggal 15 April 2011, pihak pengelola museum Sonobudoyo mengklarifikasi jumlah koleksi yang hilang menjadi 75 koleksi, dan selebihnya tercecer. Koleksi yang pada umumnya berbahan dasar emas, dan sebagian kecil berbahan dasar perunggu dan perak merupakan hibah dari Java Instituut (Museum Sonobudoyo dulu).

  Benda-Benda Yang Hilang

Sekedar menyegarkan kembali ingatan kolektif masyarakat tentang jenis koleksi yang hilang beberapa diantaranya topeng emas satu buah, lempengan siluette satu buah, Kalung emas bersusun tiga sebagai penghias dada, satu buah kalung berliontin dengan permata berlian, satu buah kalung berliontin segi enam satu buah, mahkota terbuat dari emas satu buah, perhiasan emas berbentuk bulan sabit satu buah, arca Dewi Tara berbahan emas satu buah, arca Awalokiteswara satu buah, arca Dyani Budha Akshobya berbahan perunggu berlapis emas satu buah, cepuk (kotak), dan beberapa fragmen perhiasan lainnya seperti lempengan emas dan perak, kalung dari jenis lainnya, wadah bertutup, dan mangkuk. Berbagai upaya telah dilakukan dalam mengungkapkan kasus tersebut, mulai dari penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi yang dilakukan oleh pihak kepolisian sampai upaya supranatural. Namun sampai saat ini, pihak Kepolisian DIY belum mampu mengungkapkan siapa pelaku pencurian dan benda yang hilang belum terlacak keberadaannya.

Benda-benda yang hilang tersebut berasal dari jaman Mataram sampai Majapahit, dan pengusutannya sampai sekarangpun tidak terlalu jelas. Disalah satu benda yang di sebutkan terdapat benda yang di temukan di desa Nayan Bantul Jogjakarta. Benda-benda tersebut di temukan oleh Madiyono yang sekarang berumur 80 an tahun tetapi masih tetap segar ingatannya akan penemuan benda-benda emas di sawah dulu. Ketika itu Madiyono sedang dilanda masalah ekonomi, kemudian setiap harinya berdoa dan bertawakal lalu saat sedang berjalan di pinggiran sawah dia melihat batu kecil yang berwarna kuning kemudian dia menggalinya dan menemukan perhiasan-perhiasan lain yang berbahan emas, setelah itu dia mengajak beberapa orang untuk membantunya menggali benda-benda tersebut. Benda-benda hasil temuan Mardiyono yang hilang berjumlah 10 dari total keseluruhan benda-benda koleksi yang hilang di museum tersebut. Hal ini mengakibatkan kekecewaan yang mendalam kepada para penemunya,” saya kan memberikan benda-benda temuan tersebut agar aman, tetapi sekarang malah hilang”. Tidak dipungkiri benda-benda yang ditemukan ketika tahun 1960 ujar Mardiyono tersebut diwajibkan untuk di serahkan terhadap Negara, dan Mardiyono pun mendapat imbalan berupa uang 20,000-30,000 rupiah dan juga sepetak sawah serta ternak. Tetapi meskipun begitu, mengetahui benda hasil temuannya tersebut hilang pastinya kekecewaan mendalam muncul dalam benaknya.

Salah satu benda yang hilang dan fenomenal ialah Topeng Emas yang diduga persembahan Hayam Wuruk kepada Ibu Menantunya Gayatri. Tidak tahu menahu saya tentang proses pendugaannya berasal dari mana tetapi terdapat sanggahan lain dimana jenis-jenis keseniannya tidak menunjukkan berasal dari jaman Majapahit, Topeng Emas ini adalah hibah dari Java Institutt. Dan Topeng Emas inipun usut asal-usulnya belum juga di temukan, tetapi kini dengan kondisi yang telah hilang untuk penelitian selanjutnya bakalan tidak mungkin dilakukan. Padahal Topeng Emas ini merupakan peninggalan yang sangat berharga dan mencolok. Ya meskipun menurut saya keseluruhan benda-benda yang hilang tersebut sangatlah penting semua. Untuk benda-benda yang berbahan emas tersebut berada di ruang emas museum yang sangat jarang dipertontonkan kepada khalayak umum.

 Kronologi Pra Kehilangan

Dikatakan saat terjadinya pembobolan tersebut alarm mati dan cctv mati, hal ini bisa memungkinkan bahwa sang pencuri sangatlah ulung dan telah mengamati museum tersebut dengan sangat-sangat teliti, atau bisa jadi terdapat bantuan orang-orang dalam yang merasa tertekan denga gaji sedikit dll. Karena sampai saat ini belum ketemu benda-benda tersebut berikut orang-orang yang terduga mengambilnya secara sepihak. Penyelidikan polisi pun makin tidak jelas, dengan bertambahnya waktu sepertinya saya tidak menemukan sebuah berita tentang semakin dekatnya para penyidik tersebut dengan para pelaku ataupun barang-barang yang hilang tersebut. Di berita tahun 2013 sempat di sebutkan bahwa penyidikan mengerucut terhadap terduga 2 orang dalam yang di curigai yang juga tidak di sebutkan siapa atau dalam bidang  apa orang tersebut di museum itu, karena bahkan tidak diketahui apakah cctv tersebut dimatikan atau memang pelaku mengetahui cctv tersebut dimatikan di jam-jam tertentu. Dengan begini berarti apabila memang cctv tidak dihidupkan secara 24 jam berarti keamanan museum ini sangat patut di pertanyakan, dengan kondisi orang yang jaga malam hanyalah 2 orang karyawan sesaat sebelum dicurinya benda-benda bersejarah tersebut. Dan itu adalah berita di tahun 2013 tetapi sampai sekarang sepertinya tidak di ketemukan keterjelasan atau kemajuan dari kasus tersebut. Dari sini bisa timbul suatu pertanyaan lain atau bahkan kecurigaan terhadap para penyidik ini yang sepertinya entah mengusahakan penyelidikan tersebut atau tidak.

Bisa dibilang kasus sebesar ini sepertinya dilupakan oleh khalayak ramai di Indonesia, dan oleh sebab itu mudah-mudahan dengan tulisan ini dapat terjadi sebuah gejolak dan bersama bergerak untuk ikut menodongkan sumpah serapah terhadap instansi terkait yang tidak melaksanakan tugasnya dengan baik, oke mungkin mereka memang tidak mendapatkan sebuah penemuan yang jelas karena pencurinya merupakan pencuri-pencuri ulung tetapi masyarakat ramai seharusnya mendapatkan data-data yang memang patut disebarkan agar apabila kami orang awam dapat membantu berjalannya penyidikan ini lebih cepat. Itu apabila memang kasus ini masih di urusi oleh orang-orang yang bertanggung jawab terhadapnya. Sebenarnya seluruh manusia-manusia di Indonesia mempunyai kewajiban tersebut dikarenakan ini adalah peninggalan sejarahnya, dan saya merasa bertanggung jawab untuk menyebarkan hal ini dengan jalan menulis tulisan ini. Seperti gambar yang paling atas dibilangkan, “Menolak Lupa”. Karena sebelum benda-benda tersebut jelas adanya kita tidak boleh lupa akan hasil kebudayaan para leluhur kita.

Sebuah ironi kan apabila benda-benda tersebut malah di tangan kolektor-kolektor asing yang hanya menganggap benda-benda tersebut sebagai pajangan rumahnya. Kita berbeda, kita menganggap benda-benda tersebut merupakan pusaka kita, sebagai senjata kita dan juga jati diri kita karena benda-benda tersebut berasal dari kita, untuk kita dan dibuat oleh kita. Dengan penulisan ini dan mudah-mudahan doa saya menyebarnya ide untuk mendukung ataupun mendorong untuk mempercepat proses pencarian benda-benda tersebut barang tentu bakalan menyenangkan seluruh pihak, kecuali pencurinya pastinya.

 

sonobudoyo demontrasi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *