Komposisi Musik Tanpa Musik

Diposting pada

Komposisi Musik Tanpa Musik

Musik tanpa musik adalah sesuatu yang pasti sangat asing dan tidak diketahui maksudnya. Tapi musik tanpa musik adalah dan memang dibuat oleh sesorang bernama John Cage dimana dia dengan komposisi musiknya yang berjudul 4’33” yang berisikan sebuah komposisi tanpa not satu pun juga. John Cage dalam membuat komposisi tersebut dan tertuang ke dalam paper, bukan berarti kertas notnya tidak berisi satu tulisanpun atau satu kertas kosong saja. Tetapi oleh John Cage tetap ia buat kotak-kotak dengan garis vertikal tempat not-not balok tersebut berada, hanya didalam kotak tersebut tidak berisikan satupun notasi jadi kotak-kotak not balok tersebut kosong saja. Dan dibagian belakang dia menuliskan sebuah rumus dimana setiap halamannya berwaktu 56 detik jadi untuk orang yang memainkannya setelah 56 detik membalik halaman tersebut padahal dia juga tidak memainkan apapun.

Di dalam sebuah penampilan dari hasil komposisinya, akan ada orang yang bermain piano, kemudian dia duduk dan membuka halaman kertas komposisi Cage tersebut kemudian membuka tuts piano dan tidak melakukan apapun hanya melihat stopwatch untuk mengetahui kapan waktunya membalik halaman kertas dan kapan selesai. Komposisi 4’33” John Cage ini telah ditampilkan dalam berbagai tempat dan tentu saja disetiap penampilan akan terdengar kekosongan yang sunyi. Apa maksud John Cage membuat komposisi ini terkait dengan jalan hidupnya. Tentang dia mempelajari musik-musik dari timur, buddha dan tentang zen.

Diawal-awal

Banyak orang akan tidak menyangka dengan komposisi yang dibuat oleh John Cage ini karena di waktu awal-awal dia mulai membuat komposisi dia selalu menampilkan tema kebisingan

Noise (1937–1942)

Sebenarnya Cage dalam karya-karya awalnya selalu menampilkan lawan dari kesunyian atau keramaian atau kebisingan. Dia selalu mengatakan tentang “for more new sound(unhtuk menambah suara yang ada)”. Mengambil inspirasi dari Luigi Russolo dan para futuris diabad awal ke duapuluh, Cage antusias dalam menggunakan instrumen perkusi sebagai langkahnya untuk memperluas ranah musik termasuk suara yang merefelksikan alam dan budaya industri sekitarnya.

 

Quiet (1942–1948)

Kemudian saat-saat ketika Cage pindah dari Chicago ke New York untuk mengejar ambisi karirnya, tetapi naas apa yang terjadi disana tidak lah seperti bayangannya tetapi dia tetap tidak menyerah dan mulai belajar dan bergaul kepada seniman-seniman lain mulai dari penulis Ananda Coomaraswamy dan Meister Eckhart dengan musisi Gita Sarabhai yang oleh Cage dikatakan sebagai datang seperti malaikat dari India. Dia mengajari Cage tentang musik India dan hal-hal estetik sebagai ganti ajaran yang diberikan Cage mengenai musik barat. “Tujuan dari musik adalah untuk menenangkan pikiran yang berkecamuk, membuatnya terpengaruh secara emosial” katanya saat mengajar Cage. Kata-kata ini menggerakkan Cage sangat dan menjadi pondasi karyanya. Dan mulai menyadari kalau musik barat sangat sekali terkait dengan materi dan dalam mencari inspirasi karya-karyanya dia selalu mencari suara-suara untuk bahan baru.

“I am frankly embarrassed that most of my musical life has been spent in the search for new materials. The significance of new materials is that they represent, I believe, the incessant desire in our culture to explore the unknown. Before we know the unknown, it inflames our hearts. When we know it, the flame dies down, only to burst forth again at the thought of a new unknown. This desire has found expression in our culture in new materials, because our culture has its faith not in the peaceful center of the spirit but in an ever-hopeful projection onto things of our own desire for completion.”

“Aku malu bahwa kebanyakan dari kehidupan musikku telah dihabiskan untuk mencari materi suara baru. Materi yang berjumlah banyak sebagaimana yang direpresentasikan, aku percaya, bahwa kita memili hasrat untuk mencari yang belum diketahui. Sebelum kita mengetahui yang tidak diketahui, hal itu membara dalam hati. Ketika kita mengetahuinya, bara itu mati, dan hanya muncul lagi ketika kita mempunyai pemikiran baru tentang hal yang belum diketahui. Hasrat ini telah tercermin dalam kebudayaan kita yang bersifat materi, karena kebudayaan kita mempunyai kepercayaan bukan di inti dari kedamaian batin tetapi di proyeksi pada harapan yang kita inginkan menyeluruh.”

Dalam konteks ini Cage mengatakan bahwa hasratnya yang dia takutkan dianggap absurd “to compose a piece of uninterrupted silence and sell it to the Muzak Co.(Untuk mengkomposisi sebuah kesunyian yang tak dapat diganggu dan menjualnya ke Muzak Co.)” Dan karyanya tersebut rencananya ia namai sebagai Silent Prayer dan Cage sungguh sangat serius dalam membuatnya. Silent prayer adalah sebuah usaha untuk menembut batas dari kebudayaan pertengahan amerika, sebuah langkah untuk membuat kesunyian di kantor, pusat belanja, dan di elevator. Dan memperkenalkan dari keindahan yang datang dari sunyi. Dan akhirnya dia tidak jadi membuat karya ini akhirnya.

Silence (1948–1951)

Dari kata-kata Cage tentang Silent prayer yang menjadi tonggaknya mendalami dunia meusik sunyi ini dia mulai semakin mendalami mengenai kesunyian, alam dan cara menggabungkan itu semua secara komposisi. Musim panas itu, dia membuat sebuah kuliah di Black Mountain dimana dia mengatakan untuk pertama kalinya bahwa suara dan sunyi sama di kedudukan yang sama dalam musik, dan struktur musik harusnya berdasarkan dari durasi karena karakteristik dari bunyi dan sunyi ini. Di dalam musik kata Cage bahwa kesunyian adalah sejumlah waktu yang kosong di dalam sturktur musik, tetapi fase sunyi ini tetap memainkan peran di dalam keseluruhan komposisi musik.

Dari penemuannya tersebut. Kemudian Cage mulai menggali lagi, dengan menemukan kesunyian didalam struktur musik itu dia membuat sebuah komposisi sederhana yang berlandaskan kepada sturuktur kesunyian musik ini. Dan membuat sebuah terobosan dimana antara harmoni satu dan yang lainnya berdiri sendiri-sendiri dan saling berhubungan seperti bertetangga satu sama lain. Dalam penemuannya tersebut, apabila sebuah musik terdapat kesunyian maka seluruh suara yang apapun ada dapat dimasukkan kedalamnya

Sound (1951–1952)

Penemuan Cage dengan kesunyian ini menghasilkan ledakan kreatifitas. Di tahun selanjutnya dia memproduksi musik lebih banyak dari waktu lain dikehidupannya. Kesunyian, yang tersambung dengan kesempatan, bisa memproduksi bermacam-macam . Dan selanjutnya Cage mempunyai proyek ambisius Music of Changes untuk piano, 45 menit musik yang bakal menjadi pekerjaan besarnya. Di semua dimensi yang dimulai dari kesunyian struktur musik dia memasukkan segalanya mulai dari sunyi,suara, ritme, dinamik, densitas, tempo dengan ketenangan, energik, marah, mebentak-bentak dan tajam semuanya ia dapat hubungkan satu sama lain dengan struktur musik sunyinya.

4’33” (1952)

Cara kedua adalah dengan tidak berpikir apa maksudnya, untuk memikirkan tentang konsep sunyi, apakah sebenarnya kesunyian itu benar-benar ada, filosofi yang terlihat dari saeorang komposer membuat sebuah karya yang tanpa sebuah suara pun, sunyi yang dikomposeri ini adalah sebuah metafora dari banyak hal, pengaruh politik yang berada di dalam panggung. Banyak pikiran kita muncul dari 4’33” ini yang dapat kita ambil, tetapi dari semuanya dapat diambil sebagai begini, tentang sunyi, tentang musik, tentang komposer, tentang penampilan dan penonotn dan lain sebagainya.

Sebagai seorang komposer Cage tidak mengalami pengalaman sebagai seorang pendengar. Apa yang dirasakan seorang Cage dari potongan sunyi ini berbeda dengan para pendengar tentunya, apa yang membuatnya menaruhnya dan pengalaman serta perasaanya tidak terbaca maksudnya oleh para pendengar. Tetapi Cage disini mencoba untuk making for accepting dengan begitu para pendengar akan merasakannya menurut perasaany sendiri-sendiri. Tetapi sebagaimana dapat dilihat, tentu saja hal sunyi ini juga membuat banyak orang berpikir dua kali apakah ingin mendengarkannya atau bahkan mungkin mengacuhkannya.

 

Bisa dikatakan seperti ini, apa yang terdengar dari kesunyian ini adalah suara kita sendiri dimana Cage memberikan waktu kepada para pendengarnya, waktu untuk berpikir dan mendengarkan diri sendiri tentang apapun yang muncul entah penghujatan atau kekaguman. Dan seperti pengalaman Cage yang mempengaruhi pemikirannya dimana dari pembelajaran Buddha bahwa realitas dapat dipandang dengan dua cara, yang pertama adalah realitas dengan bentuk dan warna dan yang kedua adalah realitas tanpa bentuk dan warna.

Karyanya ini tidak saja diperdengarkan di khalayak panggung saja tetapi not-not musiknya dan midi, dan mp3 nya juga diperjualkan. Dan tentu saja tetap ada yang membelinya. Bukan berarti mereka yang membeli 4’33” tersebut membeli kekosongan belaka, mereka semuaa yang membelinya, membeli sebuah ide atau gagasan John Cage mengenai kesunyian. Konsep yang ingin diperkenalkan John Cage kepada khalayak dan yang ia pelajari dari ilmu timur bahwa selain materi kita memerlukan sebuah kesunyian agar kita berpikir dan tidak terbakar yang kemudian menjadi abu yang tidak akan menyala lagi.

Baca juga : Misteri kesadaran Manusia

Sekelumit Pandang Pemikiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *