Pandangan Materialisme Historis Untuk Konstruksi Kebenaran Di Realitas

Diposting pada
http://controlsreality.blogspot.co.id

Antropologi idealis memahami realitas kebudayaan sebagai aktivitas subjektif sepenuhnya. Pada pengabsolutan postulat keuniversalan relasi-internal. Realitas material hanya ada dalam relasinya dengan kesadaran. Tetapi kemudian karena relasi-relasi internal tersebut dilihat tanpa kacamata historisnya. Maka tidak mungkin ada pengakuan atas kondisi material objektif. Ilmupun sebagai konsekuensinya dibangun untuk arisan antar subjek-intelek. Beserta konstruksi kebenarannya yang disusun secara intersubjektif.

Materialisme Marx dibangun untuk ilmu, yaitu materialisme historis. Lewat ilmu materialis historis. Marx ingin membuat konstruksi kebenaran yang tidak seperti yang lain. Lewat penggalian ilmu yang secara objektif maka digunakanlah realisme materialis sebagai objek. Objek yang keberadaan materialisnya terlepas dari ada tidaknya subjek berkesadaran.

Tuduhan dari hal itu adalah dikatakan marx mengajarkan positivism karena positivism berdasar terhadap empirisme, fenomenalisme dan reduksionisme. Empirisme mendasarkan terhadap pencerapan inderawi. Maka realitas yang adapun pada akhirnya adalah realitas subjektif bisa dibilang sejenis idealisme. Sementara Marx padahal mengatakan jika relasi subjek-objek tidak setara. Objek tidak mensyaratkan keberadaan subjek agar keberadaanya ada. Sehingga proses pengetahuan yang dimaksud ialah prasyarat menggali esensi objek atau pendekatan subjek ke objek dan bukan sebaliknya.

Dari akar fenomenalisme, pada satu sisi positivisme mengakui keberadaan realitas-dalam-dirinya yang terlepas dari kesadaran (realism-ontologis) kemudian sisi lain dimana menampik kemungkinan kesadaran akal-budi untuk mengetahui realitas-dalam-dirinya tersebut. Dalam antropologi, pendirian ini bisa dilihat dari pandangan Prof. Radcliffe-Brown yang hendak membangun antropologi sebagai “natural science of society” bahwa “ilmu alam ialah investigasi sistematis atas struktur semesta sebagaimana ia menampak kepada kita melalui panca-indra kita”.

Dengan kata lain, pengetahuan ilmiah hanyalah agregat pengetahuan-pengetahuan atomistic tentang atribut-atribut “realitas”, bukan pengetahuan atas realitas itu sendiri. Bahkan bagi positivis, realitas selalu dalam tanda kutip, yakni realitas yang menampak ke subjek atau realitas subjektif. Ujung-ujungnya, ilmu positivis jatuh juga kejurang relativisme dan pesimisme epistemologis. Relativisme dan pesimisme epistemologis ini pada gilirannya membiarkan ladang kelimuan tumbuh sebagai belantara yang di dalamnya bukan kebenaran objektif yang menjadi patokan pencapaian tetapi kemanfaatan.

READ  Proses Perubahan Sosial Masyarakat Dengan Pandangan Materialis Dialektis

Kemudian positivisme didasarkan pada reduksionisme. Dimana segalanya dapat dijelaskan dengan menjelaskan unsur-unsur penyusunnya. Tetapi perumpamaan itu harus dilihat dari kacamata dialektis bahwa realitas yang lebih fundamental mengondisikan realitas berikutnya secara niscaya dan realitas yang lebih tinggi dapat turut pula mengondisikan realitas fundamental meski tidak secara niscaya. Karena keberadaannya berada di dalam batas-batas realitas yang lebih fundamental. Karena ketika suprastruktur sudah terbentuk ia dapat memiliki kualitas yang berasal dari logikanya sendiri sehingga sulit untuk sekedar menengok kondisi materialnya untuk menjelaskannya.

Oleh karena itu sebrangan dari positivism, ialah pengakuan atas realitas material objektif sekaligus pengakuan kesanggupan akal-budi manusia menggali esensinya. Ada dua prinsip agar pengetahuan ilmiah ini benar. Harus ada suatu realitas eksternal yang keberadaannya tidak benrgantung kepada pengetahuan subjektif berkesadaran tentangnya. Kedua harus ada subjek pengetahuan yang memiliki sarana tertentu yang memungkinkannya menggali atau menerobos realitas objektif tersebut dan menyelidiki konsekuensi-konsekuensi intervensinya.

Dan pengetahuan ilmiah berpengetahuan realitas eksternal yang independen, untuk pembuktian benar salahnya pengetahuan tersebut dapat dibicarakan. Hal ini berangkat dari kenyataan historis praktik keilmuan memang bersifat historis yang berubah dan terkondisikan secara sosial. Prinsip penyelidikan keilmuan mengandaikan dua hal, dunia eksternal-objektif dan subjek sosial beserta sarana penyelidikan dalam konteks historis tertentu.

“Relasi-relasi bisa dibekukan sebagai yang sedang mengada hanya dengan dipikirkan, sebagai yang berbeda dari subjek-subjek yang ada dalam relasi-relasi ini satu sama lain”

Seperti yang tampak dalam realitas empiris, komoditas ialah adanya barang-barang. Tetapi barang-barang itu bukan komoditas. Suatu barang bisa menjadi komoditas ketika menjadi hadiah atau upeti pada yang lain. Yang menjadikan barang itu komoditas adalah relasi sosialnya.

READ  Pendidikan Akan Pengertian Pendidikan

Kesatuan teori dan praktik

Marx menolak pemisahan subjek dengan dunia amatannya. Subjek senantiasa didalam dunia ramai tempat diri, seperangkat cara mengamati, sekaligus objeknya juga berada, entah disadari atau tidak.Subjk selalu berada dalam onjek dan sebaliknya tanpa mungkin dipisahkan dalam proses pengetahuan. Namun gagasan ii tidak bisa disamakan dengan gagasan bahwa keberadaan objek selalu mengandaikan keberadaan subjek.. Disinimesti tegas mana bayas-batas epistemnologis pengetahuan dan batas-batas ontologis keberadaan. Sebagai representasi atas presentasi realitas kedalam kesadaran subjek, pengetahuan mensyaratkan keterlibatan subjek didalam objeknya meski karena representasi ii menggunakan perlambang dalam aktualisasinya, maka tidak haruslah pengetahuan ini merupakan cerminan langsung ayas realitas. Justru karena fungsi representasinya inilah maka pengetahuan bisa berbeda atau malah bersebrangan dengan realitas yang hendak direpresentasikannya. Satu-satunya patokan kebenaran pengetahuan ialah korespondensinya dengan realitas.

Mengetahuiu berarti terjun ke dalam danauhal-ihwal maka mengetahui dunia berarti pula turut mengubahnya.  Sindiran Marx kepada Feuerbach bahwa “si filsuf hanya menafsirkan dunia”, sementara yang penting ialah “mengubahnya”. Konsekuensi logisnya tidak ada posisi  ialah tidak ada posisi bebas nilai dalam berteori. Tetapi tetap ada patokan objektif untuk menentukan benar-salahnya pengetahuan, yakni korespondensinya pengetahuan tersebut dengan realitas yang sedang direpresentasikan.

*Rangkuman dari Pengantar Pemikiran Tokoh-Tokoh Antropologi Marxis dimana isi disesuaikan dengan judul tulisan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *