Panggil Dia Pram Saja

Diposting pada

Pramoedya

Pram kembali mendadak heboh karena Google Doodle yang mengabadikan hari kelahirannya. Padahal sudah seharusnya sejak dulu dihebohkan dengan pengajaran buku-buku hasil karyanya di sekolah-sekolah. Sama seperti di sekolah luar negeri yang juga menjadikan buku-buku Pram referensi sastra sosial-realisme. Tapi tidak, penulis hebat ini tidak diagungkan karyanya oleh negaranya sendiri. Kunjunganku ke rumah masa kecilnya menyiratkan pesan tersendiri, dari lingkungannya di jaman dulu dia ingin menarik semuanya itu menuju kebebasan tanpa penindasan. Apa yang salah?

Kelahiran dan Masa Kecil Pram

Pram Muda
Pram Muda

Pramoedya Ananta Mastoer lahir pada 6 Februari `1925 di Blora Jawa Tengah. Dari seorang ayah yang berprofesi seorang pendidik dan juga organisator di dalam Budi Utomo dan ibu yang berasal dari kalangan keluarga agama yang kuat. Nama Mas di dalam Mastoer kemudian ia hilangkan karena ia rasa menimbulkan kesan terlalu aristrokat. Pram anak sulung dari keluarganya. Lahir di jaman ketika Belanda masih berkuasa menanamkan benih-benih kenangan dendam kepada para penjajah. Makanya tulisannya selalu berbau melawan penjajahan.

Di  Blora Pram habiskan masa kecilnya. Dia ceritakan masa kecilnya itu dalam kisah cerita-cerita pendek dikumpulkan jadi satu menjadi Cerita dari Blora. Dari apa yang saya lihat dia coba merenungi lagi apa yang bisa membuat dia berpemikiran seperti itu dan dapat menulis sebagaimana itu. Dia mengaku dalam bukunya tersebut bahwa keluarganya adalah keluarga perasa dimana batin mereka peka terhadap sekitar. Serta dalam buku itu di sebutkan bahwa sering kali ibunya mau menaungi anak-anak titipan orang tua yang tidak kuat membiayai sekolah. Oleh ibunya mereka dididik dan diberi pengajaran.

Pengakuan lainnya adalah bahwa Pram adalah pengagum dari Ibunya sendiri. Bahkan hal itu turut terbawa dalam karya-karyanya dengan menonjolkan salah satu tokoh wanita yang berkepribadian keibuan.

Sekolah Pram sendiri memerlukan lulus sampai dengan 7 tahun padahal hitungannya itu sama dengan SD jika saat ini. Di sekolah bapaknya sendiri yang sampai sekaran masih ada dan terdapat patung ayahnya di depan sekolah itu, dekat dengan rumahnya. Hingga akhirnya ketika lulus dari sana kondisi keluarga Pram sedang marut Ayahnya bangkrut karena peraturan baru dari Gubermen ( pemerintahan Belanda) mengenai sekolah ilegal. Ayahnya yang seorang nasionalis sejati ingin mengembangkan kurikulum sendiri tetapi apa daya kalah kekuasaan dan kekuatan oleh Belanda.

Pram yang ingin masih melanjutkan sekolah pergi ke Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya. Tetapi tidak selesai karena Jepang telah menguasai Indonesia. Dari Surabaya dia bertolak pergi Jakarta mencoba bekerja sebagai juru ketik di Domei (Koran Jepang). Dan kemudian menjadi ahli stenograf dan akhirnya menjadi jurnalis.

Baca Juga :

Revolusi Kaum Proletar

Kehidupan Masa Kecil Hitler

Buku-Buku yang Membentuk Dunia

Masa Sebagai Penulis

Pram membuat buku pertama kali dengan judul Perburuan (1949). Dan kemudian di penjara karena tulisannya “Hoakiau di Indonesia(1960)” mengenai diskriminasi orang China di Indonesia dan menyinggung aturan Presiden Sukarno. Setelah keluar dari Penjara dia mulai menulis lagi secara intensif dan sudah mencari bahan mengenai tetralogi terkenal Pulau Buru. Tetapi pada tahun 1965 terjadi kegemparan yang membuat Suharto naik menjadi Presiden dan menahan banyak orang tanpa diadili terlebih dahulu. Termasuk Pram yang pertamanya di Nusa Kambangan kemudian di buang lagi ke Pulau Buru di Maluku. Kisahnya disana banyak terekam di tulisannya Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I dan Perawan Remaja Dalam Cengkraman Militer yang ia banyak temui dibuang di Pulau Buru juga.

Di Pulau Buru Pram awalnya tidak diberikan kertas maupun pena untuk menulis. Jadi naskah pulau buru ia narasikan kepada kawan-kawannya. Sampai akhirnya dia mendapat kesempatan untuk menulis lagi karena diberikan mesin tik dari salah seorang jendral penjaga sana yang berbaik hati dan mengetahui bahwa dunia memerlukan tulisan pram ini. Tetapi tulisan itu malah tidak dipublikasikan di Indonesia terlebih dahulu. Pulau buru setelah selesai diselundupkan oleh kawan Pram seorang pendeta dari Jerman yang kemudian di alih bahasakan. Dan diluar sana mendapatkan respon terbaik. Tetapi tidak ditanahnya sendiri yang ia pun tidak juga nikmati karena mendekam sebagai seorang berstatus tahanan politik saat itu.

Pada tahun 1979 Pram dibebaskan dari pulau buru untuk pindah status sebagai tahanan rumahan. Buku-bukunya masih banyak yang dicekal di dalam negeri, dan royalti kadang sulit keluar. Karya besarnya sepertinya memang ia sedekahkan untuk dunia tanpa timbal balik. Tetapi apresiasi kebanyakan malah muncul dari luar negeri. Daftar penghargaannya begitu panjang, dan juga dia sempat masuk kedalam nominasi Nobel.

Meskipun kadang bahkan dari rekan-rekan senimannya di Indonesia sendiri ada yang sering mengencam pihak yang memberikan Pram penghargaan karena mereka anggap Pram memiliki dosa di masa lalu yang seharusnya patut digunakan sebagai tolak ukur. Entah apa maksudnya, mungkin karena dia termasuk tapol.

Pram di masa tuanya sempat diwawancarai oleh dua wartawan dari luar. Yang kemudian dijadikan sebuah tulisan oleh mereka dengan judul “Aku Terbakar Amarah Sendirian”. Apakah di umur dia saat itu dan di jaman saat itu, perkataan dia masih diperdengarkan. Di gelisah dan merasa asing di negeri sendiri. Tidak Pak karya anda menelurkan anak bangsa yang siap menjadi anak semua bangsa di bumi manusia ini pak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *