Pencerahan Sebagai Salah Satu Dalang Revolusi Perancis

Diposting pada

Sebuah perubahan besar terjadi di Perancis tahun 1789. Perubahan yang menjadi salah satu tolak ukur menuju dunia sampai sekarang ini. Sebuah revolusi perubahan yang amat cepat dan mendasar. Atas dasar apakah sebuah revolusi itu bisa terjadi. Apa yang membuat revolusi itu muncul hingga merubah tatanan yang ada.

Revolusi Perancis sendiri itu, tidak berlasung satu kali fase dan kemudian selesai menjadi bentuk tatanan baru. Revolusi itu berlangsung beberapa fase, beberapa penguasa, beberapa pemerintahan. Saling jatuh menjatuhkan, saling sokong menyokong atas nama musuh siapa dan musuh yang mana. Ada yang bilang keindahan, ada yang bilang kekacauan dan kehancuran. Juga lagi ada yang mengatakan sebuah perkembangan budaya manusia. Beragam kata tanggapan atas revolusi tersebut berbeda-beda. Tetapi revolusi itu adalah fakta yang sudah benar terjadi. Tetapi meskipun begitu apakah lalu berhenti kita menanyai kejadian yang sudah itu?

Baca Juga : Kronolonogi Revolusi Perancis

Sulitnya Interpretasi Tentang Penyebab Mendasar Revolusi Perancis

Mengapa Revolusi Perancis itu muncul, adalah salah satu pertanyaan yang sampai sekarang tetap saja beragam jawabannya. Adonan masyarakat seperti bagaimanakah yang membentuk Perancis menjadi kompor panas yang kemudian meletup-letup. Jika menilik penjelasan dari para sejarahwan Marxis, mereka mengatakan jika revolusi tersebut dihasilkan oleh perkembangan budaya historis manusia. Karena perpaduan beragam kemajuan historis manusia yang ada, sebuah revolusi adalah hal mutlak bukti dari perubahan itu. Kaum determinislah para sejarahwan Marxis ini.

Yang melihat bahwa pertarungan antar kelas yang memiliki kekuatanlah yang menyebabkan perubahan ini. Antara bangsawan dengan kaum borjuis. Dimana kaum borjuis yang mulai memiliki kekuatan atas ekonomi masyarakat. Ekonomi kapitalis yang mulai muncul saat itu mendukung borjuis untuk menggulingkan pemerintahan aristrokat.

Tetapi kemudian timbul masalah, karena ekonomi kapitalis yang sedang baru muncul-munculnya tersebut kebanyakan masih ditangani oleh kaum bangsawan kelas bawah yang mendapat mandat dari bangsawan diatasnya untuk menangani masalah produksi dan konsumsi.

Sehingga karena masih rancunya keberadaan kaum borjuis dan kaum bangsawan tersebut antara mana yang memiliki kekuatan ekonomi lebih tinggi dari lainnya. Maka sejarahwan yang menolak pandangan determinis ini memilih untuk mengatakan lain. Bahwa terdapat hal lain selain daripada pertarungan kekuasaan antar kelas. Mereka mengatakan bahwa sebab-musabab paling mendasar dari hal itu adalah berkembangnya nalar. Sehingga perubahan tersebut muncul dari ranah intelektual. Dimana dengan keinginan untuk membentuk sistem sosial yang lebih baik kaum-kaum intelektual dan filsuf yang ada merumuskan apa yang benar sedari nalar mereka. Maka munculah nama-nama pengarang besar seperti Voltaire, Rosseau, Montesqiau dsb yang mewarnai kehidupan Perancis.

Lalu apakah ide yang mendasari pergolakan di Perancis ini, atau pertarungan kekuasaan antar kelas masyarakat yang melandasinya?. Disini akan dicondongkan kearah mengenai ide-ide apa yang muncul di ranah masyarakat Perancis sendiri, berikut kelas yang memegang pengaruh ide itu atau mendapat pengaruh akan ide itu sendiri.

Baca Juga : Kekuasaan ditangan pemain

Situasi yang membuat Perancis menjadi tercerahkan

Sebenarnya kebanyakan pengarang dan filsuf Perancis yang muncul saat itu, mendapat pengaruh awal dari John Locke. Filsuf asal Inggris yang menulis mengenai sistem sosial. Dan Inggris kemudian memang lebih awal berubah tatanan politik dan masyarakatnya meski tanpa jalan berliku dan berdarah-darah seperti Perancis.

Pemikiran-pemikiran bertema pencerahan banyak muncul di abad itu, di berbagai daerah. Mungkin bisa dikata, adalah bentuk kemajuan pemikiran manusia yang mulai menanggalkan harapan-harapan bahwa semua jawaban berasal dari kalangan agamawan.

Lalu kemunculan filsuf pemikir kenamaan tersebut, apakah mempengaruhi masyarakat biasa diluar lingkungan intelektual Perancis. Di Perancis, di saat-saat sebelum revolusi, mundur beberapa dekade kebelakang. Telah terbentuk masyarakat yang gemar berdiskusi memperbincangkan segalanya. Segala hal mulai dari politik, agama, kebenaran, keadilan, dll. Tema-tema yang seringkali sebelumnya hanya menjadi keistimewaan kalangan akademisi saja.

Juga bebarengan dengan ditemukannya mesin cetak sehingga buku-buku pemikir yang ada dapat disebar luaskan untuk khalayak banyak dari beragam kelas masyarakat. Salon, café, jalanan menjadi tempat berkumpul untuk menanyakan dan menjawab segalanya. Perancis menjadi sebuah tempat terjadinya pesta pengetahuan.

Baca Juga : Pengaruh Marxisme dan Darwinisme

Siapa yang terpengaruh oleh ide-ide tersebut

Dan pemikiran-pemikiran itu tidak menjadi bahan yang berhenti di perbincangan saja. Tetapi juga menjadi sebuah bentuk kesadaran. Akan dirinya, akan posisinya di masyarakat dan apa yang menjadi hak sebagaimana apa yang seharusnya ia terima.

Voltaire, dengan pemikirannya yang kemudian dapat digunakan untuk menyerang kesewenangan atas kepemilikan gereja. Dia menanamkan paham Deisme, bahwa Tuhan ada tetapi seperti pembuat jam yang kemudian jam tersebut berjalan dengan sendirinya. Jadi campur tangan Tuhan di dunia yang sekarang ini tidak ada. Dan haruslah kita sendiri yang memutuskan untuk bagaimana dan untuk kemana. Karena berasal dari paham itu, kekuasaan Gereja dapat ditekan. Dan dari perbincangan yang menyebar untuk memperbincangkan bagaimana sebenarnya Tuhan itu berjalan, apakah melalui tangannya yang diperantarai gereja ataukah bahwa dia memang si pembuat jam yang kemudian semesta berjalan sesuai aturannya.

Tidak hanya Voltaire yang memberikan sebuah gambaran baru mengenai bagaimana dunia bekerja, Montesque yang membahas perihal pembagian pemerintahan yang seharusnya. Dimana pemerintahan yang dijalankan saat itu dengan pembagian kekuasaan antara gereja dan bangsawan raja. Tidak dapat menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Dan pengaruh dari John Locke serta tatanan baru Inggris, memperlihatkan jika sebenarnya gereja tidak berhak memiliki wewenang dibagian kepemilikan property. Karena gereja saat itu mendapat bagian pajak dan tanah sebagaimana bangsawan yang bisa saja tiba-tiba mendapatkan tanah. Lalu petani diharuskan mengusahakan tangan dan kakinya untuk mengerjakan lahan itu hanya untuk diberikan si bangsawan yang mendapat mandat untuk mengurusinya.

Lalu dari masalah perpajakan di Perancis, yang mengambil sedikit dari si kaya dan mengambil banyak dari si miskin. Ruesnay membahas perihal ini, dia membuat tulisan dengan judul “fairer taxation”. Pajak yang lebih adil. Dan mengenai persamaan hak untuk bisa berpartisipasi ke pemerintahan di tulis oleh Rosseau.

Begitu banyaknya ide nalar-nalar yang muncul. Bentuk perubahan yang dapat terlihat adalah dengan salah satunya dibentuknya Third Estate yang berisi kalangan menengah borjuis, serta kaum pedagang, intelektual dan ahli hukum. Dari Third Estate tersebut, masyarakat yang sebelumnya tidak mendapatkan tempat di pemerintahan dapat mendapatkan kedudukan dan suaranya.

Yang sebelumnya para pedagang dan kapitalis kaum menengah terkulai oleh peraturan ketat dan membatasi bangsawan dapat melawan atas dasar untuk perkembangan lebih baik. Banyak para ahli hukum dan pengacara yang membaca karya Rosseau, Montesque untuk mengetahui hal-hal apakah yang dapat mereka gunakan untuk membela kepentingan mereka.

Atas dasar nalar kesadaran mereka, bahwa sebenarnya kesewenang-wenangan bangsawan serta gereja tidak beralasan. Bahwa kekuasaan yang sebelumnya diberikan oleh mereka lewaa keturunan dan model sistem “ancient regime” dimana sedari dulu bangsawan berikut keturunannya yang mengatur adalah hal yang tidak dapat dinalar. Oleh karena itu Montesque dengan pembagian kekuasaan yang sebenar-benarnya dapat dinalar menjadi masuk akal untuk diterima. Dan dipergunakan sebagai senjata melawan kesewenang-wenangan.

Kesimpulan

Ide disini atau nalar disini memiliki peran penting akan kesadaran kelas, kesadaran kolektif masyarakat, kesadaran individu dan kesadaran lainnya. Sadarnya mereka akan kesewenang-wenangan kekuasaan raja dan gereja yang tidak dapat dinalar asal-muasal munculnya kekuasaan itu selain hasil dari keturunan.

Dengan tokoh sentral seperti Voltaire yang memberikan pemikiran mengenai Diesme. Dan kemudian diperbincangkan untuk dipikirkan, maka mereka dengan begitu memiliki sebuah pemahaman tangan-tangan gereja tidak perlulah menjangkau sampai kedalam sendi-sendi kehidupan. Kehidupan mereka dari bekerja dan bertani tidaklah perlu diatur dari pihak gereja.

Itu adalah salah satu bentuk ekuatan dari sebuah ide, dimana jika telah mencengkram. Maka sebnuah revolusi dapat terjadi. Raja yang berkuasa semenjak “ancient regime” jatuh didepan guillotine dengan lepas kepala. Bukti kemarahan rakyat didepan ilusi kekuasaan sang raja yang telah mencengkram mereka dan leluhur mereka berabad-abad lamanya.

Referensi:

A SOCIAL HISTORY OF THE FRENCH REVOLUTION by Norman Hampson London and New York 1963

A Companion to the French Revolution Edited by Peter McPhee A John Wiley & Sons, Ltd., Publication 2013

THE FRENCH REVOLUTION JOCELYN HUNT ROUTLEDGE London and New York 1998

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *