Pendidikan Akan Pengertian Pendidikan

Diposting pada

 

progissimmo.net

Sebenarnya pendidikan apalah gunanya, maksudnya apa dan beserta pertanyaan lainnya juga akan mengapa ada juga pendidikan itu sendiri. Apakah manusia benar-benar memerlukannya. Menginginkannya, membutuhkannya dan lain sebagainya. Sebenarnya apa manfaatnya dan juga untuk siapakah manfaat pendidikan tersebut.

Dari banyak hal tadi coba kembali meniliki benarkah pendidikan itu diketahui arti dan maksudnya oleh subjek yang mengikuti sebuah pendidikan. Atau malah subjek tersebut masuk ke pendidikan tanpa sepengetahuan atau kesadaran dia. Dan juga apakah pendidikan itu diharuskan berasal dari sebuah institusi atau dari sesuatu diluar itu, sesuatu yang keberadaanya hanya hasil dari pengandaian manusia saja.

Sebenarnya apabila mengambil makna pendidikan sebagai sebuah kegitan penerusan sebuah pengetahuan ke generasi selanjutnya. Maka sedari purba kala pendidikan itu telah ada. Kepada generasi yang lebih muda diberikan sebuah pedoman untuk bekal kehidupannya dan bekal dirinya dalam kemenjadiannya di kehidupan. Jika di purba karena lingkup komunalnya juga kecil maka kelangsungan pendidikan pada gunanya adalah salah satunya untuk menjaga ketahanan kelompoknya dengan pengenalan terhadap tata cara berburu dan juga nilai-nilai spiritual yang menjaga mereka bersama.

Makna dari Pendidikan Itu Sendiri

Apabila diambil dari contoh kasus diatas dan kemudian dijadikan pedoman untuk menentukan makna pendidikan. Maka dapat dikatakan apabila pendidikan adalah sebuah hal penerusan pengetahuan yang diperlukan oleh pihak yang belum tahu atau yang lebih muda. Sehingga pengetahuan tersebut dapat berguna terhadap subjek yang belum tahu tersebut untuk berkehidupan di kemudian harinya.

Sehingga pendidikan tidak dapat dipisahkan dari sebuah agen yang memproduksi pengetahuannya. Apabila di sebuah komunitas purba agen tersebut bisa jadi adalah seorang tokoh terpandang komunitas tersebut atau seorang saman dalam komunitas purba terebut. Sementara apabila dialihkan ke masa-masa sekarang ini atau yang kebudayaan dan peradabannya telah semakiin memadat dan mengkompleks. Dapat dibilang salah satu agen yang memproduksi pendidikan untuk disebarkan adalah sekolah atau institusi sejenis lainnya.

Itu apabila mengambil sebuah makna yang sedemikian sederhana dan di persempit agar jelas. Padahal apabila diambil saja makna pendidikan sebagai sebuah pembelajaran seseorang akan sesuatu di dunia baik dalam dirinya maupun dunia diluar dirinya. Maka pendidikan dapat diproduksi oleh segala jenis aspek agen tergantung yang mencari atau mendapat pengetahuan itu sendiri.

Karena kadang kala. Menjadi tahu atau mengetahui adalah hal yang subjektif. Dan ini juga menjadi tergantung dengan subjek itu sendiri yang merasakan akan sentuhan pengetahuan itu atau tidak. Jika ia merasakannya maka dapat dikatakan apabila ia mendapatakann sentuhan tersebut di sebuah hal yang bisa dianggap oleh mungkin orang-orang kebanyakan bukanlah agen yang memproduksi pendidikan maka bisa dikatakan apabila pendidikan dapat di dapat di segala tempat dan hal.

Tetapi hal yang dikatakan sebelumnya tadi terlampau luas untuk di kategorisasikan maka bisa diambil saja apabila pendidikan yang akan disebut dan dibahas lebih menekankan mengenai masalah pendidikan yang dipersiapkan oleh subjek yang belum tahu tadi untuk mengetahui apa saja yang ia perlukan di kehidupannya di kemudian hari.

Tujuan dari Pendidikan

Oleh karena itu untuk mendalami maknanya mau tidak mau harus berlanjut ke mengapa pendidikan itu sendiri pada awalnya diadakan. Dan oleh karena ini juga pendidikan sebenarnya tiap kebudayaan memiliki tujuan yang berbeda-beda. Tergantung anggapan agen pemroduksi kebutuhan yang melihat sebenarnya apa yang diperlukan di kehidupan para subjek yang belum tahu di kemudian hari.

Agen yang memproduksi pengetahuan disini salah satunya adalah sekolahan. Institusi yang didirikan untuk mendidik para subjek yng masih muda dan belum tahu untukĀ  menjadi tahu. Institusi seperti ini keberadaanya sudah lama semenjak Yunani kuno dengan Academia Plato sebagai contohnya. Yang berhasil menelurkan salah satu pelajar yang di kemudian hari pemikirannya masihlah digunakan yaitu Aristoteles.

Dan kebudayaan tempat institusi bernaung itu menjadi patokan akan apa saja yang diajarkan dalam institusi tersebut. Seperti dengan contoh kota Sparta dimana kota kecil di Yunani ini sering kali diserang oleh pihak luar atau musuh yang bertubi-tubi. Sehingga salah satu tujuan institusi sekolah selain mengajarkan pembelajaran akademik juga mengenai pembentukan mental dan jasmani para orang-orang muda. Juga pendidikan mengenai rasa cinta terhadap tanah air agar para kaum muda di kemudian hari memiliki rasa memiliki terhadap bangsanya dan mempertahankan segenap hati.

Selain pemebelajaran mengenai hal-hal tadi. Sparta juga terkenal akan demokrasi dan kebebasannya. Selain demi cinta tanah air. Pembelajaran juga menekankan apabila apa yang mereka lakukan yaitu membela tanah air demi mempertahankan kedaulatan kebebasannya. Tetapi salah satu aspek yang menarik akan pembelajaran hal-hal tersebut adalah selain kemampuan bertempur dan kesehatan orang-orang Sparta begituĀ  bagus, tetapi kemudia meski dapat dikatakan bukanlah hal yang baik orang-orang Sparta melakukan pembuangan terhadap orang-orang yang dikatakan tidak dapat memberikan sesuatu hal yang berguna terhadap bangsan Sparta itu sendiri. Dalam hal ini orang-orang cacat senantiasa dibuang di Sparta karena dianggap tidak dapat membela tanah airnya sendiri.

Itu dari pendidikan Sparta ketika kuno dulu. Sedangkan, untuk sekarang ini pendidikan sebenarnya ditujukan ke arah mana?. Apakah pendidikan kita diperlukan untuk menjadikan kita mampu bertempur di kemudian hari?. Memang ada instansi pendidik yang melaksanakan hal untuk bertempur tetapi tidak untuk semua.

Bisa dikatakan di jaman sekarang ini pendidikan fungsinya adalah untuk menjadikan orang yang belum tahu apabila dirinya memerlukan pendidikan salah satunya sebatas untuk mendapatkan penghidupan yang layak di kemudian hari. Dengan sistem yang ada sekarang, diperlukan orang-orang yang siap untuk meneruskan sistem tersebut.

Lalu apakah bedanya dengan pendidikan di era Sparta yang menjadi contoh sebelumnya. Mungkin yang dapat dikatakan ialah apabila di Sparta selain menghasilkan ketrampilan bertarung dan yang lainnya yang sekiranya diperlukan. Pendidikan di Sparta menghasilkan sebuah nilai yang dinikmati bersama. Sebuah kehormatan yang berguna keberadaanya yaitu untuk membela bangsa dan tanah airnya serta kebebasannya itu sendiri. Dan salah satu hasilnya adalah kekuatan mereka sebagai rakyat bersama melawan musuh yang mencoba menghancurkan tanah air mereka.

Sementar untuk di era modern. Nilai yang dapat dilihat baik sebagai individu maupun kelompok yang didapat dari agen pemroduksi pengetahuan adalah tidak mengenai hal-hal seperti Sparta lagi. Tetapi salah satunya yang paling mencolok adalah mengenai persaingan. Bukan berarti juga ketika pelatihan pendidikan di Sparta tidak ada persaingan, karena pasti antara satu sama lain pejuang harus bersaing agar kemampuan satu sama lain meningkat dan membuat mereka kuat secara kesatuan. Selain kemampuan tempur individu Sparta terkenal juga akan kemampuan kelompok yang kompak saat berperang.

Sementara persaingan dalam sekarang sejauh penglihatan yang ada dapat dimungkinkan adalah persaingan yang ada tidak menimbulkan meningkatnya kemampuan kelompok tetapi hanya individu saja. Karena tidak adanya tujuan lain selain persaingan tadi. Mungkin bisa dikatakan itu.

Pengusahaan Penyimpulan

Di kali ini mungkin diperlukan filsafat sebagai sebuah usaha selain menganalisis juga mensintesiskan pengetahuan dan kebutuhan berikut kehidupan manusia. Maka sebenarnya perkembangan manusia itu bagaimana dan apakah sebenarnya hakikat manusia itu, berikut juga bagaimana hakikat dunia dan lain-lain. Seperti juga kebebasan berkehendak dan berikut hal-hal seperti itu mengenai pilihan hidup dan lain-lain.

Karena ketika dunia dan kehidupannya memiliki kejelasan sebuah definisi akan apa itu maka kemudian pendidikan lalu di buat produksi pengetahuannya sesuai dengan pandangan dunia tadi. Oleh karena itu sebenarnya kekuasaan tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pemroduksian pengetahuan. Karena dengan adanya kekuasaan definisi yang belum terlampau jelas ata benar sudah dapat digunakan. Juga sebaliknya dari sebuah definisi sebuah kekuasaan muncul maka juga filsafat yang dapat digunakan di tiap belahan dunia berebda-beda tergantung kulturnya. Dikarenakan pandangan masing-masing budaya akan dunia juga berbeda. Mungkin yang menjadi salah satu yang terpenting adalah bahwa meski usaha manusia dalam menggapai realitas juga materi selalu dilakukan. Maka pendidikan itu bisa saja berubah lagi. Sehingga aspek selain definisi penguasaan atas alat-alat yang memberikan kekuasaan harus juga dilihat demi meneropong kea rah mana pendidikan sebenarnya menuju.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *