Pengertian Idealisme dan Sejarahnya

Diposting pada

Penjabaran mengenai idealisme, yang mana sering kali tersalah artikan oleh masyarakat awam mengenai keinginan membentuk sesuautu yang ideal. Jika ditilik dari segi bahasa berdasarkan pemahaman masyarakat sesungguhnya memang agaknya dapat dirasa benar, karena dengan penjabaran secara lintas pendek mengenai idealisme adalah sebuah pandangan pemahaman dunia/kenyataan berasal dari ide, atau dibentuk oleh ide, dan dari kata dasaran kata ide tersebut maka agar dapat dijadikan kata yang menjadi istilah seharusnya ideisme, tetapi karena sepertinya tidak memunculkan makna yang dapat dirasa maka tetap menjadi idealisme. Dibawah akan dipaparkan terlebih lanjut lagi beserta sekilas sekelumitan sejarahnya.

Baca Juga : Pengaruh Marxisme dan Darwinisme

Pendahuluan

Idealisme adalah doktrin metafisik dan epistemologis bahwa ide atau pemikiranlah yang menjadi hal fundamental di kenyataan. Seungguhnya, seluruh filosofi yang membahas bahwa satu-satunya hal yang dapat diketahui adalah kesadaran, dimana kita dapat menjadi yakin bahwa materi atau apapun diluar yang selain diri benar-benar ada. Meski, satu hal yang nyata adalah keberadaan jiwa, bukan benda fisik.

Idealisme adalah bentuk dari Monoisme (sebagai lawan dari dualisme atau pluralisme), dan berada di pihak berlawanan juga tetapi sama-sama pehaman monois seperti fisikalisme, materialisme ( yang mempercayai bahwa hal yang dapat dibuktikan benar-benar ada adalah materi fisik) dan naturalism. Juga berlawanan dengan realism (yang memegang pendapat bahwa materi memiliki eksistensi absolut tanpa perlu persepsi pengetahuan kita).

Definisi luas dari idealism dapat ditemukan dibanyak sudut pandang dalam agama, meski sudut pandang idealis tersebut tidak perlu dimasukkannya entitas seperti Tuhan, makhluk supernatural, atau keberadaan kehidupan setelah kematian. Adalah pemahaman yang disebarkan di sekolah Yogacara Buddha, yang mengembangkan Mahayana. Beberapa pemahaman Hindu juga menggunakan idealis, meski juga mengembangkan bentuk dualism sama seperti Kristen.

Di pemahaman umum awam, idealisme dideskripsikan sebagai manusia yang memiliki harapan tinggi ,prinsip atau nilai yang dikejar dan dianggap tujuan), kadang dengan konotasi bahwa apa yang ideal sangat tidak terealisasi atau tidak praktis. Kata ideal juga sering digunakan sebagai ajektif untuk mendesain kualitas yang sempurna, diinginkan dan terbaik, yang sangat tidak dimaksudkan seperti dalam filsafat karena secara epistimologi penggunaan kata idealism, dimaksudkan untuk menyebut representasi mental(jiwa).

Baca Juga : Pengertian Sosialisme

Sejarah Idealisme

 

Plato adalah salah satu filsuf yang membahas apa yang disebut dengan idealisme, meski Idealisme Platonic nya sangat membingungkan sehingga sering dianggap atau sebut dengan Realisme Plato. Ini karena, meski bentuk atau semesta (yang mana bukan termasuk materi “ide” dalam arti luas), Plato menetapkan bahwa bentuk ini memiliki eksistensi sendiri yang independent, yang mana bukan merupakan tempat seorang idealis, tetapi seorang realis. Bagaimanapun, sering dibahas bahwa Plato mempercayai bahwa “realitas menyeluruh” (yang dipisahkan dari eksistensi saja) dapat tercapai melali pemikiran,dan dia dapat dimasukkan sebagai seorang non-subjektif, “transcendental” idealis, mirip seperti Kant.

Rene Descartes adalah salah satu orang pertama yang mengklaim bahwa semua apa yang kita ketahui ada di kesadaran kita masing-masing, dan dunia ekstenal luas hanyalah sebuah gagasan atau gambaran dari pemikiran kita. Meski, dia menganggap, sangat mungkin untuk meragukan realitas dari dunia luar yang terdiri dari objek yang nyata, dan “aku berpikir, maka aku ada” adalah pernyataannya yang tidak dapat diragukan. Selanjutnya, Descartes dapar dimasukkan sebagai idealis epistemology awal.

Murid Descartes, Nicolas Malebranche, membuat teoeri ini untuk mengatakan bahwa kita hanya mengetahui secra langsung bagian dalam pemikiran kita, apapun yang diluar adalah hasil dari kerja Tuhan, dan semua aktivitas muncul ketika berada di dunia external. Idealisme jenis ini yang merujuk kemudian ke Pantheisme atau Spinoza.

Gottfried Leibniz mengekspresikan sebuah bentuk dari idealisme sebagai Panpsychisme, dia percaya bahwa atom yang nyata di alam semesta adalah monads, (individual, tidak berinteraksi “bentuk substansi dari makhluk”, memiliki persepsi). Untuk Leibniz, dunial luar adalah ideal yang mana fenomena spiritual bergerak dan menghasilkan kekuatan dinamis yang bergantung terhadap monads yang simple dan immaterial. Tuhan, “pusat monad”, membuat harmony diantara dunia dalam pemikiran dari monads dan dunia luar yaitu objek, jadi hasil dari dunia diluar tersebut secara khusus adalah sebuah ide dari persepsi monads tersebut.

Baca Juga :Pengertian Kapitalisme

Uskup George Berkeley seringkali dianggap sebagai “Bapak dari idealism”, dan dia membuat salah satu bentuk murni idealisme pada awal abad ke 18. Dia membahas bahwa pengetahuan kita seharusnya berdasarkan terhadap persepsi kita dan bahwa sesungguhnya tidak ada objek yang diketahui yang “nyata” dibelakang persepsi seseorang (dan hasilnya, bahwa apa yang nyata sesungguhnya adalah persepsi itu sendiri). Dia menjelaskan bagaimana setiap diri kita amsing-masing memiliki hampir persepsi sama mengenai suatu objek, dengan membawa Tuhan sebagai penyebab samanya persepsi kita tersebut. Versi idealisme dari Berkeley sering kali menujukkan sebagai Idealisme Subjektif atau Idealisme Dogmatis.

Arthur Collier (1680-1732), seorang yang memiliki pemahaman yang sama dengan Berkeley, mempublikasikan klaim yang mirip dengannya di waktu yang hampir sama, meski keduanya tidak pernah berekanana ataupun mempengaruhi satu sama lainnya.

Immanuel Kant, anggota paling awal dan paling berpengaruh sekolah Idealisme di Jerman, juga memulai dari posisi pemahaman dari Berkeley dalam bukunya mengenai Empirisme (yang dapat kita ketahui sebagai impresi mental atau fenomena yang dunia luar buat di pemikiran kita). Tetapi dia meragukan bahwa pikiran membentuk dunia sebagaimana yang kita menerima percaya bahwa hal itu membuat bentuk di ruang dan waktu. Menurut Kant, pikiran bukanlah tempat kosong atau tabula rasa) seperti yang John Locke percayai, tetapi sesungguhnya telah diperalat dengan pengkategorian untuk mengorganisasi indra impresi kita, bahkan jika kita tidak dapat sungguh mendekati noumena (sesuatu di dalam sesuatu) yang memunculkan atau menimbulkan phenomena (sesuatu yang hal itu muncul kepada kita) yang kita terima. Idealisme Kant sering kali diketahui sebagai Transcendental Idealisme.

Johann Gottlieb Fichte menyangkall konsepsi Kant mengenai noumenon, dengan mengatakan bahwa mengenali hal yang di luar dari jenis apapun akan sama saja dengan menyetujui benda materi nyata. Meski, Fiche mengklaim bahwa kesadaran memiliki fondasinya sendiri, dan tidak memiliki landasan seperti dunia nyata (benar, hal itu tidak berlandaskan apapun diluar dari dirinya). Dia adalah yang pertama membuat teori pengetahuan dimana diluar sama sekali tidak ada dari berpikir mengenai dirinya akan diasumsikan untuk ada.

Baca Juga: Definisi Diskursus Foucault

Friedrich Shcelling juga membangun di kerja Berkeley dan Kant dan bersama Hegel, dia mengembangkan Idealisme Objektif dan konspe dari “Absolut”, dimana Hegel kemudian mengembangkan lebih jauh sebagai Idealisme Absolut.

G.W.F Hegel adalahs alah satu Idealis Jerman terkenal, dan dia membantah bahwa doktrin lain seperti Materialisme dll yang menyatakakan batas mutu/sifat (objek alamiah) sungguh nyata adalah salah, karena hal itu bergantung terhadap yang lainnya untuk mendeterminasikan akan hal itu. Hegel menyebut hal ini dalam filsafatnya dengan Idealisme Absolut, bertentangan dengan Idealisme Subjektiv dari Berkeley dan Idealisme Transcendental dari kant dan Fichte, keduanya mendoktrin dan mengkritisi. Meski dia juga mengambil ide Kant, Hegel selebihnya lebih mendasarkan pemahamannya terhadap kepercayaan Plato mengenai determinasi diri melalu pelatihan penalaran untuk mencapai jenis realitas yang lebih tinggi daripada objek fisik.

Idealis Jerman lainnya, Arthur Schopenhauer, membangun pembagian pemahaman Kant menjadi phenomenal dan noumenal, yang menyarankan bahwa realitas noumenal sesungguhnya adalah singular dimana pengalaman phenomenal terjadi berkali-kali, dan kemudian mengatakan bahwa segalanya (meski tidak juga) adalah hasil dari keinginan/kemamuan.

Kemudian di kemudian waktu pada abada ke 19, Idealisme Inggris yang dipimpin oleh F.H Bradley (1846-1942), T.H Green (1832-1882) dan Bernard Bosanquet (1848-1923), melanjutkan untuk membangun idealisme melawan dari doktrin fisikalis yang sedang dominan.

Sumber

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *