Perbedaan Kualitatif dan Kuantitatif

Diposting pada

Kuantitatif vs kualitatif

Dalam sejarah, kualitatif dan kuantitatif adalah dua metode pengumpulan dan penganalisaan data yang senantiasa berbeda arah.“ Tidak hanya mengenai strategi pengumpulan dan koleksi datanya, secara kerangka epistemic pun berbeda dalam mengkonsepkan alam, realitas sosial, dan prosedur untuk memahai sebuah fenomena” (Filstead, 1979:45). Disini akan di jelaskan alur kekuatan, kelemahan dan kritik dari masing-masing metode.

Metode Kuantitatif

Kekuatan Kuantitatif

Kekuatan terbesar dari metode ini ialah bahwa banyak anggapan yang mengatakan bahwa hasil data penelitian kuantitatif lebih dapat dipercaya, lebih rasional, logis dan sistematis. Dan meski dengan menggunakan cara-cara analisa yang sulit atau kompleks tetap hasil yang diberikan dainggap jelas dan langsung ke sasaran. Sedangkan para perisetnya dianggap objektif, langsung dan terburu-buru. Metode ini membuat sampel sebagian dari keseluruhan yang dianggap mampu mewakili keseluruhan, dengan cara-cara dan metode tertentu dalam penentuannya. Pengumpulannya menggunakan skala atau dalam bentuk lain sebuah kuisoner dengan daftar pertanyaan yang sesuai dengan tujuan penelitian. Sehingga objek riset dalam hal ini tetap dalam jarak yang sama dengan periset.

Dengan cara-cara seperti itu, apalagi dengan kemudahan dan perkembangan tekonologi sekarang ini.Maka daerah-daerah yang secara geografis sulit dijangkau maupun orang yang tidak bergerak pun dapat tersurvei karena dapat menggunakan variable data lain seperti kode pos, no telefon, ataupun internet yang membuat periset tidak perlu menuju ke daerah tersebut. Jadi data dapat terbuat dengan cepat dan dapat dijalankan pemeriksaan berulang kali karena kelebihan kecepatannya tersebut. Dengan begitu metode ini benar-benar mempergunakan teknologi model baru, sedangkan bisnis modern saat ini begitu teruntungkan dengan metode ini.

Baca Juga : Teori Kelas Karl Marx

Metode kuantitatif dalam hubungannya dengan riset akademis dapat berfungsi untuk mengembangkan sebuah teori baik yang mikro, meta maupun teori besar yang membahas banyak hal dengan cara membenturkannya dengan hipotesa logis. Yang mengaplikasikan Karl Popper “test of falsibility” dimana sebuah hipotesa dapatlah benar apabila hipotesa lain telah salah atau gagal. Dengan kuantitatif ini pengecekan beragam hipotesa dapat dijalakan cepat dan bahkan bisa sekaligus meniliki peralatan yang ada. Karena kuantitatif menawarkan pengidentifikasian dan membandingkan cepat antara fenomena, distribusi manusia, daerah dan waktu, dengan voting, member partai, kemiskinan, dan perubahan perilaku. Juga selain itu secara statistis kuantitatif dapat mengidentifikasi fenomena skala kecil dengan melihat konsentrasi variable tertentu yang dapat menimbulkan dampak.

Kelemahan dan kritik dari metode kuantitatif

  1. Doktrin bawaan positivis dimana sangat dapat di perdebatkan ketika dibawa ke dunia sosial.
  2. Metode ini terlalu lepas, terlalu terpencil untuk memahami dunia sosial dan politik yang kompleks. Sering ada yang mengatakan bahwa metode kuantitatif ini amoral.
  3. Sampelnya dimana didaku random tidaklah dapat sepenuhnya dapat digantungkan, karena rantai kausal sosial kompleks dan sangat sulit untuk menentukan variable yang menjadi sebab karena terlalu banyak variable.
  4. Indikator terukur, dimana untuk mengetahui sebuah indicator dalam sosial maupun politik sangatlah sulit, seperti contoh bagaimana sebuah kekuasaan dapat diukur, juga adalah data yang resmi sering kali menjamin keuntungan pemerintah, dan hal ini dalam mengukur dalam contoh sebuah gangguan keamanan di masyarakat dan sebuah penangkapan dapat memberikan hasil yang benar objektif.
  5. Batas dari ketergantungan pengamatan saat pengumpulan data adalah bahwa hanya dapat mengamati yang teramati serta mengukur yang dapat diukur.

Baca Juga : 

Bantahan kritik dan kelemahan dari kuantitatif

Para kalangan supporter juga membuat klaim yang mempertahankan metode kuantitatif. Seperti bahwa sampel dapat memahami suatu hal dari objek riset juga statistic dapat digunakan dalam batas kepercayaan tertentu. Kuisoner dapat di desain dengan sistem cek dan control agar meminimalisir bias responden. Semua konsep dapat menjadi sebuah indicator yang terukut, seperti motivasi dan subconscious atau ketidak sadaran yang dapat teridentifikasi menggunakan pertanyaan proyeksi. Dan semua variable dapat terukur dengan adanya periset yang terlatih menggunakan teknologi modern. Pada akhirnya kuantitatif adalah metode konkret dan dapat di gantungkan, karena telah membawa sains ke politik untuk membuat ilmu politik.perbedaan kualitatif kuantitatif

Metode Kualitatif

Kekuatan Kualitatif

Banyak peniliti menggunakan metode ini karena para peniliti beranggapan bahawa dengan metode inilah sebuah penelitian akan masyarakat yang kompleks dapat terjalankan dan terpahami. Kemampuan dari metode ini adalah dalam kapasitas uniknya melalui observasi mendalam dan wawancara untuk mempelajari dan memahami nilai-nilai yang mendasari individu dan grup. Metode ini membantu mengembangkan teori dengan cara induksi, dengan cara melihat dunia dengan mata subjek. Jadi periset dapat mengetahui apa yang ada di balik pemahaman subjek serta lewat interpretasi lanjutan memahami instansi dan kekuatan dominan yang membuat kerangka pemahaman subjek.

Apalagi terkhusus politik meski juga dapat diaplikasikan ke lain hal, dengan contoh politik dimana merupakan hal yang dilaksanakan lebih dari satu orang. Dengan kualitatif maka riset dari subjek individu dapat juga di alihkan kemudian ke grup. Jadi dinamika dan nilai mendalam antar anggota grup dan bagaimana hal itu di pertukarkan dapat terketahui.

Metode ini juga membuat minoritas dapat menjadi bagian, yang apabila dalam sampling kuantitatif tidak kena karena jumlah ataupun tidak mau mengidentifikasi diri mereka seperti pecandu, teroris, anggota gang dsb. Yang mencolok sekali akan metode ini adalah pendekatan dimana menghindari jarak yang diakiatkan objektivitas dan menekankan empatik. Jadi kebanyakan periset disini adalah seorang aktivis. Dimana melalui metode ini maka dapat juga dilakukan perbaikan kehidupan subjek lewat perubahan policy. Periset ingin membantu lewat kaca mata pandang subjek dan kemudian interpretasi periset sendiri agar dapat melakukan hal itu. Juga ada hal yang telah normative dalam metode ini yang tidak dimiliki metode kuantitatif. Metode ini butuh akan fokus besar ke komunikasi, verbal dan penerapan linguistik ke analisis. Apalagi saat ini dengan teknologi perekaman sehingga rekaman dapat di dengarkan leh periset lain.

Kelemahan dan kritik dari metode kualitatif

Salah satu hal yang jelas adalah bahwa sering kali hasil data dari metode kualitatif ini sangat lepas. Metode ini juga sangat lemah dalam hal intelektual dan kekakuan operasional dibandingkan dengan kuantitatif. Karena itu sering kali para periset menjadi over-identitiy dengan subject, dan pengamatannya menjadi bias karena interpretasinya terbagi dengan pandangan subjek, dan hal ini sering kali dianggap hal yang normal. Jadi data dapat menjadi sangat tidak dapat digantungkan.

Tidak hanya bias dalam pandangan periset, juga keberadaan periset sendiri dapat memberikan dampak terhadap subjek dan tentu juga pastinya berefek ke hasil. Untuk mengenai pendekatan empatis, dapat dicontohkan, bagaimana seorang laki-laki, kelas menengah dapat mengetahui pandangan dunia seorang wanita meskipun latar belakang kehidupan mirip atau sama, apalagi apabila kulturnya sudah sangat berbeda. Dan dalam hal ini akan sangat membuat interpretasi menjadi sangat lebar batas ketidakbenarannya, juga bagaiamana seorang periset mengetahui bahwa interpretasinya salah.

Baca Juga : Manfaat Mempelajari Sejarah

Bantahan kritik dan kelemahan dari metode kualitatif

Bantahan awal ialah, bahwa metode kualitatif di ilmu sosial tidak lah lemah dan sungguh malah dibutuhkan dan sangat kaku. Periset sadar akan bahaya ‘over-identity’ oleh karena itu ketegasan protokolir dan control pengawasan sangatlah perlu. Dan tidaklah berbasis kepercayaan semata, data periset haruslah ada rekamannya agar dapat terlaksanakan peng cek kan ulang. Dan juga melalui metode inilah minoritas dapat terpelajari, serta melakukan riset kepada subjek di daerah subjek berguna agar dapat mengetahui efek tertentu dan kemudian mengidentifikasinya sehingga dapat meminimalisir bias dalam interpretasi. Karena diketahui bahwa bahasa pun tidaklah netral ‘setiap bahasa adalah bias’ (Nietzsche).

Metode ini tetap menganggap bahwa kenormatifan adalah hal yang seharusnya diterima daripada di kritik, karena tetap peran sentral periset disini memang ada sehingga peran seorang periset kulitatif melakukan riset demi mengembangkan kehidupan subjek adalah hal yang menguntungkan dan harus diterima. Kuantitatif tidak menguntungkan untuk mempelajari perilaku dari sebuah grup dan akan bisa dilakukan menggunakan kualitatif. Bagaimanapun, riset menggunakan metode kualitatif memberikan data, temuan, kedalaman, makna berkualitas yang memberikan pandangan terhadap ketakutan, nilai mendasar, motivasi dari seorang actor di dunia politik maupun sosial.

Baca Juga : Apakah Sebenarnya Riset Sains itu Dibutuhkan Oleh Kita?

Penggabungan metode

Karena telah berbeda secara ontologis dan epistemis maka penggabungan total kedua metode ini adalah sama dengan menggabungkan air dan minyak. Dan juga kritik dan bantahan yang ada membuat ketidakmampuan untuk melaksanakannya, kecuali dalam hal sinergi akan penguatan bukti dan triangulasi data. Dan cara yang mungkin dalam saat pengumpulan adalah dengan jalan mix and match  dimana dipastikan satu metode lebih digunakan sedangkan metode yang lain adalah pembantu.

NB: Sumber tulisan ini adalah metode riset politik, sehingga kebanyakan pembuatan contoh adalah dalam ranah politis, akan tetapi menurut penulis penjelasan dari sumber tulisan dapat di aplikasikan ke berbagai ranah.

Sumber pustaka

Pierce, Roger. “Qualitative Versus Quantitative Methods: A Relevant Argument?” In Research Methods in Politics , by Roger Pierce, 41-50. London: SAGE Publications, 2008.

Summary
Perbedaan Kualitatif dan Kuantitatif
Article Name
Perbedaan Kualitatif dan Kuantitatif
Description
Perbedaan kualitatif dan kuantitatif dalam penelitian terjadi karena perbedaan metode.Sehingga penjelasan disini fokus ke metode analisa dan contohnya.
Author
Publisher Name
Sekelumit Pandang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *