Proses Perubahan Sosial Masyarakat Dengan Pandangan Materialis Dialektis

Diposting pada
Source : http://www.pxleyes.com

Tulisan ini sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya. Dimana setelah dipaparkan kritik atas materialisme oleh Marx yang ia tunjukkan dengan keberadaan materialisme pada akhirnya menepis keberadaan manusia sebagai agensi perubahan. Bagaimana mungkin bisa mengubah, jika gerak faktor perubahan sepenuhnya berasal dari eksternal. Pernyataan tadi terdampak karena materialis hanya memahami realitas sebagai objek. Padahal material tersebut tidak dapat mengobjekkan dirinya sendiri. Oleh karena itu kebenaran objektif tidaklah mungkin. Karena yang ada hanyalah kesepakatan antar subjek pengamat. Dan yang berkuasa dapat mengarahkan perubahan adalah mereka yang punya sarana konstruksi kebenaran.

Cacat atas materialisme diatas, bertolak belakang dari usaha Marx untuk memahami masyarakat manusia dan mengubahnya sesuai pemahaman ini. Tetapi menolak materialisme hanya akan menjerumuskannya ke ancaman idealisme. Oleh karena itu Marx memungut dialektika Hegel.

Inti dari dialektika Hegel ada pada pengakuan atas doktrin relasi-internal yang berlaku baik dalam konsepsi rasional maupun dalam realitas. Dengan premis “keberadaan sesuatu telah mengandaikan sesuatu yang lain”.

Bisa dikatakan ialah seperti ini, setiap identitas sesuatu mengalami ketertundaan karena tidak ada sesuatu yang utuh dalam dirinya sendiri karena identitasnya selalu tertunda, “ karena inilah tidak ada yang namanya hakikat sesuatu”, yang ada hanyalah relasi-relasi yang membuat “sesuatu” senantiasa “sedang menjadi sesuatu” karena didalam sesuatu selalu terkandung negasinya. Dalam ontology, realitas sejati adalah proses. Realitas objektif bukanlah yang abadi tetapi yang bisa berubah dan diubah. Dalam kasus yang diangkat Hegel tentang Negara modern. Negara modern adalah hasil pergulatan panjang wacana tentang presentasi kedaulatan atau kebebasan dan representasi politisnya ke dalam suatu pranata.

Seperti tiap-tiap revolusi menumbangkan wacana dan praktik lama digantikan yang baru. Wacana baru ini tidak berasal dari luar, tetapi sedari awal sudah ada sebagai negasi dari wacana dari praktik lama tadi. Karena ini, Marx memungut dialektika karena relasi internalnya. Dapat dilihat jika realitas yang prosesual dan senantiasa sedang-mengada memungkinkan dipikirkan dan dilakukannya perubahan masyarakat yang sekarang dengan bertumpu terhadap kondisi internal masyarakat tersebut.

Yang tidak disetujui Marx adalah relasi-internal ditingkat kesadaran atau sebagai wacana lawan saja. Buat Marx,  relasi-internal itu merupakan  laku baik dalam realitas material maupun realitas kemasyarakat yang mencakup bentuk tertentu kesadaran sosial.

READ  Alat Batu Yang Dibuat Monyet Liar Memaksa Kita Memikirkan Keunikan Kita Sendiri

Realitas material tidak sepenuhnya eksternal terhadap realitas kebudayaan karena ada bagian yang tercakup kedalam kebudayaan melalui aktifitasnya lewat representasi, perlambang, dll. Tetapi relasi material juga tidak sepenuhnya menjadi relasi internal terhadap realitas kebudayaan karena ada batas dalam realitas material yang tidak mungkin dilampaui karena apabila semuanya terjalin dalam realitas-internal maka yang ada hanyalah kesejatian kesadaran. Seperti yang dibahas di tulisan sebelumnya, karena dalam aktifitas penggalian materinya terdapat batas-batas yang ditentukan oleh hukum yang mengatur didalam realitas material tersebut. Produk hukum dalam realitas material juga merupakan usaha penggalian manusia dalam memahami realitas material.

Apabila realitas material tidak dikesinambungkan dengan realitas kebudayaan, realitas material tetaplah ada. Tetapi dengan realitas kebudayaan penggalian akan realitas material itu menjadi dimungkinkan (seperti materi yang awalnya hanya dapat dilakukan penggalian materi sampai dengan memisahkannya menjadi beberapa unsur hingga disaat ini sampai ke inti-inti atompun telah tergali, sesuai hukum yang terpahami atas usaha penggalian tersebut.)

Meski barangkali gagasan juga dapat mengubah realitas kebudayaan. Hanya saja gagasan itu tidak mungkin muncul dari ketiadaan dan sanggup berdiri sendiri bagi keberadaannya. Karena orang memerlukan sesuatu eksternal untuk hidup. Karena kesadaran sosial dikondisikan oleh situasi dan aktifitas material manusia-manusianya. Maka mengubah kesadaran tanpa mengubah kondisi material yang menyokong keberadaan kesadaran sosial itu sama saja menggebuk bayang-bayang.

Bahaya dari penerimaan sistem relasi-internal dialektika dalam membuat sebuah ontologi yang aktif dan berproses adalah jangan sampai jatuh ke jurang idealisme dan relatif. Karena subyektifitas akan selalu muncul bentuk pertentangan antar subjek. Oleh karena itu “harus melewati tahapan analisis ilmiah atas studi objektif karena memandang situasi yang objektiftidak ada.”

Yang perlu ditanggalkan adalah hubungan konstitutif yang universal dan apriori. Karena relasi-internal dialektika akan dibuat secara universal dan tetap ada bukti. Makanya harus ditemukan lewat analisis spesifik-historis. Dan dikondisikan oleh syarat-syarat keberadaan materialnya.

Relasi-internal yang berkaitan dengan kebudayaan dan syarat-syarat materialnya dapat dijelaskan dari aktifitas historis manusia. Relasi kerja upahan adalah relasi pokok dalam sistem kapitalis. Relasi gender, perhambaan bukan relasi pokok. Untuk mengetahui relasi-internal yang pokok diperlukan melihat relasi tersebut lewat kemunculannya dari sisi historis. Seperti relasi di masa feodal adalah perhambaan yang tanpanya tidak akan ada sistem ekonomi feodal. Dengan penerimaan dialektika maka “materialisme tersebut memahami gerak dialektis sekaligus juga historisnya relasi-relasi internal didalam relaitas kebudayaan” (PPTTAM, 53). Perumpamaan Marx adalah bangun atas dan bawah atau fondasi dan bangunan.

READ  Sosialisme Menurut Marx

Bangunan adalah masyarakat. Fondasi adalah penghubung realitas kebudayaan dengan realitas material. Fondasi ini bukan bagian bangunan tetapi prasyarat berdirinya bangunan. Dan manusia tidak tinggal didalam fondasi tersebut tetapi di bangunannya. Oleh karena itu masyarakat tidak sadar akan keberadaan prasyarat bangunan tersebut. Karena orang-orang tidak perlu sadar akan sistem produksi tempat mereproduksi kehidupan mereka. Mereka hanya bisa membuat sistem itu senantiasa bekerja. Karena struktur ini melampaui tampakan empiris dan kesadaran perindividu. Kata Marx struktur itu tidak terindra karena “kehidupan sosial itu pada dasarnya praktis” bukan kontemplatif.

Aktifitas produksi dan pengorganisasian masyarakat selalu ada dengan lewat representasi. Dan oleh karena representasi atau perlambang itu kontekstual  dan manasuka oleh karena itu sulit untuk mencerminkan kondisi material. Maka dari itu kesadaran sosial dalam suprastruktur tidak mencerminkan realitas dan kondisi material yang direpresentasikan. Sehingga relasi fondasi ekonomi dan suprastruktur politik bukanlah determinasi telanjang sehingga rupa dan dinamika suprastruktur tidak bisa direduksi sepenuhnya kedalam penjelasan rupa dan dinamika fondasi perekonomian. Ada kala dinamika suprastruktur tidak berelasi langsung dengan gerak dalam fondasi perekonomian masyarakat(kontekstual).

Suprastruktur pun dapat mempengaruhi fondasi perekonomian. Hanya perubahan struktural pada fondasi (perubahan cara produksi) tidak bisa dirubah dengan total oleh aktifitas suprastruktur (politik dan ideologis). Oleh karena itu masyarakat yang mampu merangkul dialektika dan relasi historisnya adalah yang formasi sosialnya tersusun atas serangkaian relasi dinamis antara relasi sosial produksi dan kekuatan produktif.

*Rangkuman dari Pengantar Pemikiran Tokoh-Tokoh Antropologi Marxis dimana isi disesuaikan dengan judul tulisan sebagai bentuk lanjutan tulisan Materialisme Karl Marx Dengan Pandangan Antropologi Budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *