Pseudosains,Sains dan Aku

Diposting pada

Gobekli Tepe, Gunung Padang, Struktur monumen di Jepang, Cryptologi, Creationist, akupuntur dll adalah ranah-ranah yang sering dibahas ole para penganut pseudosains. Lalu apakah itu pseudosains? . Dalam bahasa mudahya seperti ini, pseudosains adalah sebuah ide/gagasan yang dipaksakan untuk menjadi ilmiah padahal bukan ilmiah. Jadi pseudosains menggunakan metode-metode yang tampak ilmiah tetapi tidak ilmiah bagi para ilmiawan. Biasanya pengguna pseudo ini adalah orang di luar institusi dan sering kali nampak dalam blog-blog di internet termasuk blog ini menurut saya.

Dari hasil tulisan-tulisan para ilmiawan saya membaca salah satunya dari seorang dosen di UGM yaitu Aris Tanudirjo. Beliau menyebutkan bahwa semakin maraknya pseudosains seperti ini dapat membahayakan karena lewat hal-hal yang dengan mudah menyebar luas dan tampak ilmiah ini membuat para masyarakat mudah untuk terseret percaya. Lalu kenapa hal tersebut membahayakan? hal tersebut juga dikarenakan kurangnya publikasi jurnal-jurnal ilmiah dari para periset dan juga kadang tidak pahamnya masyarakat sendiri akan bahasa yang digunakan para pembuat jurnal, karena para ilmiawan untuk dapat membuat sebuah jurnal memerlukan waktu belajar tentang banyak hal yang mengubah cara penulisannya dan tata katanya tidak nampak seperti orang awam yang mencoba menulis jurnalnya sendiri. Tetapi bukan berarti setiap orang tidak boleh membuat jurnalnya sendiri, yang tidak boleh adalah menutup diri dan tidak  ingin belajar dari yang lain.Hal-hal itulah yang membuat masyarakat lebih mudah untuk mengakses ke situs-situs dan bacaan-bacaan yang dianggap pseudo dan tampak ilmiah tadi karena selain mudah didapatkan dan cepat viral juga bahasanya tercerna oleh orang awam. Yang membahayakan adalah karena dengan begitu masyarakat menjadi mudah terbuai dan mulai tidak mempercayai rasionalitas dari ke ilmiahan suatu peristiwa yang diteliti para ilmiawan. Dengan begini masyarakat akan mudah terbuai dan menurut kepada penjelasan-penjelasan dari para penulis pseudosains tersebut. Dan dari beberapa bacaan yang saya baca juga, bukan dari tulisan dosen UGM tadi karena saya agak lupa bahwa para pseudosains ini kadang lebih mementingkan kepentingan kelompok mereka sendiri seperti para Creationist sebagai contohnya dan tidak mementingkan mencari kebenaran akan suatu hal. Dengan begini kebenaran akan menjadi sesuatu yang nisbi karena tiap-tiap kelompok memegang teguh setiap pendapat mereka sendiri-sendiri.

Baca London Hammer, dimana Creationist menunjukkan aksinya

Dan juga terdapat alasan lain lagi selain kenapa masyarakat lebih suka  karena sains kadang-kadang membosankan dan ini saya akui juga, sains menjelaskan sesuatu dengan tahap-tahap penjelasan ilmiah yang dalam suatu cerita dongeng bisa dianggap sebagai cerita yang membosankan. Siapa yang tidak suka dengan cerita Gunung Padang hasil dari peradaban manusia sebelum masa sejarah di Indonesia, siapa juga yang tidak suka dengan Gobekli Tepe yang di klaim sebagai kuil tertua di dunia. Itu semua adalah sebuah cerita yang menganggumkan untuk di dengarkan dan di ceritakan daripada cerita bahwa manusia berkembang secara linier kemudian karena perubahan iklim manusia mulai untuk bercocok-tanam dst. Mainstream scientist adalah sebutan dari para pseudosainser menyebut para ilmiawan.

Baca mengenai Gobekli Tepe Kuil Tertua

Itulah tadi contoh dari pseudosains, menjadi sebuah usaha untuk memojokkan metode sains dan menyalahkannya tanpa tahu pembenaran atau letak kebenarannya. Seperti tulisan Aris Tanudirjo kalau para penganut pseudosains menjadi terkena Galileo sindrom dimana mereka mempunyai anggapan apa yang mereka sebut bakal menjadi benar suatu saat nanti. Itu juga yang ditakutkan oleh beliau, para pseudo ini menyalah-nyalahkan metode ilmiah tanpa tahu pembenarannya.

Lalu berada di pihak manakah tulisan-tulisan coba-coba saya di sini? Sampai taraf ini, saya masih pseudo mungkin malah dibawahnya karena metode yang saya pakai sangat-sangat mengambang seperti tulisan saya tentang kesegarisan Candi Borobur, Candi Pawon dan Candi Mendut. Itu merupakan hal yang sangat-sangat mungkin dibawah pseudo. Karena juga tidak tahunya metode yang dianggap benar oleh para ilmiawan dan juga sumber tulisan terbatas atau malahan saya tidak tahu tempatnya. Karena saya juga baru belajar jadi dimohon juga para pembaca untuk tidak menelan mentah-mentah hal-hal yang saya tulis karena tujuan saya membuat ini adalah saya perlu jawaban karena saya juga belajar. Ya memang saya masih mengambang-ambang dalam menjelaskan sesuatu disini tetapi itu karena kapasitas saya saat ini seperti itu dan dengan menulis disini berharap kemungkinan akan adanya pembenaran yang lebih benar.

Yang kadang menjadi semangat berfikir saya untuk mencari tahu adalah saya kutip dari  tulisan Aris Tanudibyo juga, disitu dia menceritakan tentang hasil karya Newton dimana Principe ditolah oleh dewan keilmiahan di Inggris kala itu dan di taruh di gudang keluarganya, baru pada tahun 1930 buku-bukunya di temukan di toko loak dan menjadi pemahaman yang mendunia sampai sekarang dan ini berarti dulu Newton juga di anggap pseudosains juga karena ditolah oleh kalangan ilmiawan atau seperti kata saya tadi mainstream sains. Tetapi saya juga mencoba untuk tidak menyalah-nyalahkan salah satu pihak karena itu tadi saya mencoba untuk meyakini segala kemungkinan. Ada sebuah joke yang saya dapat dari Quora. Tetapi ini adalah dialog fiksi dari seorang filsuf dan saintis.

 

  • Hawking: Philosophy is dead! (filosofi mati!)
  • Socrates: How so? (kok bisa?)
  • Hawking: Physics has answered the questions you philosophers argued over for millenia (fisika telah menjawab semua pertanyaan para filsuf dari dulu kala)                           .
  • Socrates: What does it mean to answer a question? (apa maksudnya dengan menjawab pertanyaan?)
  • Hawking: To use science to prove something. (dengan menggunakan sains untuk membuktikan sesuatu)
  • Socrates: Why do you use science? (mengapa kamu menggunakan sains?)
  • Hawking: Because it works and philosophy is dead! (karena itu berhasil dan filosofi mati!)
  • Socrates: Prove that science works. (buktikan bahwa sains berhasil)
  • Hawking: … ….
Disini saya tidak ingin mengejek salah satu pihak sebenarnya, hanya sebuah joke saja. Bukannya bermasud menjelek-jelekkan sains seperti yang saya bilah sedari tadi saya mencoba mempercayai segala kemungkinan dan dengan memunculkan dialog itu hanya mencoba mengatakan kalau ada sesuatu yang belum bisa di jelaskan oleh sains dan oleh sub ilmu lainnya. Dan pesan saya untuk pembaca tetaplah bertanya-tanya terhadap apa yang kamu baca tetapi bukan mempertanyakan ketahuilah bagaimana awal mula bisa terjadi ini dan itu. Seperti jika membaca post kesegarisan Candi saya pikirkanlah kenapa saya menggunakan itu dan menurut penalaran anda apakah dengan cara itu bisa dibuktikan lalu anda mulai mencari-cari lagi sumber-sumber lain yang dapat membantahkan tulisan saya. Dengan begitu kita bakal terus mencari tahu tidak sekedar tahu. Carilah tahu tentang pertanyaan-pertanyaan yang mengusik di benak anda karena yang anda tanyakan mungkin dari sejak manusia ada telah di pertanyakan.
“Keep Searching.Because World is Full of Mysteries my Friend.
Sekelumit Pandang Pemikiran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *