Realisme Dan Sejarah Sastra Indonesia Dalam Pergulatan Kemerdekaan

Diposting pada
sumber: http://elworldartist.blogspot.com

Mungkin dalam ukuran variable yang mendukung dapat terciptanya proses panjang kemerdekaan Indonesia, sastra merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan. Dari lama waktu ketertindasan ratusan tahun oleh kolonial telah menimbulkan corak masyarakat yang budaya-budaya lamanya menunggu untuk dibangkitkan lagi keberadaannya di dalam kesadaran orang-orang setelah tergerus model produksi kolonial dan kapital yang menghancurkannya, dan peran sastra menunjukkan tajinya disana. Sastra realis atau realisme begitulah yang biasa disebut, sebuah genre atau jenis sastra yang memiliki corak dalam narasinya bahwa penggambaran dalam teks itu adalah sebuah cerminan sejujur-jujurnya pandangan penulis sastra tersebut. Sehingga juga yang sering kali nampak dari teks-teks realis khususnya novel — dan juga selanjutnya disini akan senantiasa menggunakan acuan narasi-narasi yang tidak lain tidak bukan adalah novel—yang biasanya dapat menjelaskan setting berbagai hal dalam narasinya dengan begitu mendetail. Begitu jelas mencoba menggambarkan kenyataan sebagaimana adanya tanpa tedeng aling-aling meski kadang kala hal itu adala sebuah hal yang dianggap tabu nan buruk.

Untuk menjadi hakim atas apa yang sedang ada di kenyataan, apa yang ia lihat juga untuk ia hakimi. Salah dan benar mungkin perkara lain yang sudah menjadi bagian subjektif dari masing-masing penulis. Dan tentu bukan itu yang menjadi inti, bahwa selain penghakiman atas apa yang dilaksanakan oleh penulis ada lagi, dengan mata penulis yang mencoba mengangkat kisah yang jarang terdengar dan tidak pernah muncul di kesadaran lewat sastra. Banyak hal luput dari berbagai sarana pemroduksian informasi yang memberikan makanan kesadaran masyarakat dapat termunculkan oleh sastra jenis realisme ini.

Entah pantaskah disebut sebagai subgenre atau turunan atau malah sebuah genre baru mengenai jenis realisme, yaitu realisme sosial. Dimana kelahirannya adalah sebuah pencanangan dari penulis-penulis sastra pra-revolusi Rusia bahwa proletar dan rakyat tertindas lainnya membutuhkan sebuah budaya sendiri, sebuah bacaan sendiri dan gaya sendiri. Berbeda dengan pendahulunya yaitu realism saja yang memperlihatkan kejujuran pandangan akan dunia, realism sosial menunjukkan sebuah pandangan jujur akan dunia dan juga pandangan bahwa dunia itu dapat dirubah oleh manusia-manusia itu sendiri. Apabila dalam kebiasaanya realism pada intinya menunjukkan sebuah ke pessimisan dan kekejaman sebuah dunia(apa yang saya ketahui dari beberapa karya realis tetapi juga diaffirmasi  oleh juga wacana lain) realism sosial menunjukkan bahwa meski dalam kondisi bagaimanapun yang tetap harus membara adalah sebuah kehendak bahwa segalanya dapatlah diubah. Corak yang sering kali nampak dalam teks-teks realism sosial adalah sebuah semangat revolusioner untuk mengubah apa yang di kenyataan, sebuah teks yang biasanya berisi ajakan atau yang membuat sebuah makna yang menjadikan pembacanya tergerak.

Baca Juga: Revolusi Rusia

Realisme dan Realisme Sosial Dalam Pergulatan Kemerdekaan

Mengenai masalah pergulatan kemerdekaan Indonesia, disini saya membandingkannya dengan pergulatan sastra realisme di Rusia ketika masa-masa revolusinya. Karena urutan genre yang popular pada masanya antara Rusia dan Indonesia ketika itu mirip. Dimana realisme adalah genre sastra yang awal muncul dan popular di Rusia pra-revolusi itu, dengan tokoh-tokoh besarnya seperti Feodor Dostoyevsky maupun Tolstoy. Dan kemudian dilanjut oleh genre sastra realsime sosial yang panglima terkenalnya ialah Maxim Gorky. Gorky dalam studi literatur Rusianya senantiasa mengatakan bahwa keberadaan Dostoyevsky dalam literatur Rusia sangat besar pengaruhnya. Tetapi terdapat sebuah pernyataan sebagai kritik dari Gorky sendiri terhadap Dostoyevsky, “Dostoyevsky’s genius is indisputable. In force of portrayal his talent is equal perhaps only to Shakespeare. But as a personality, as a “judge of men and the world,” he is easy to conceive in the role of a medieval inquisitor.”

Sehingga dalam alur, saya melihatnya bahwa keberadaan realisme turut bisa membantu keberadaan realism sosial dapat muncul. Yang memberikan sebuah gaya baru, dan memberikan kekuatan gerak baru demi para buruh dan kaum tertindas di Rusia. Dan hal ini tidak jauh berbeda dengan keberadaan pertautan alur kemunculan sastra di Indonesia. Yang pada awalnya terbitan-terbitan awal hanya mampu untuk memperlihatkan kondisi lingkungan dan masyarakat Indonesia, pujangga-pujannga baru yang ketika itu juga libido perjuangan dan politik masyarakat sedang besar-besarnya terdapat sebuah gaya lain yang meskipun jarang ada yang menamainya sebagai realism sosial tetapi nilai-nilai sebuah tujuan dan pembebasan banyak terekam disana. Setelah kemerdekaanpun ketika situasi juga masih belum stabil nilai-nilai realisme sosial semakin banyak muncul didalam naskah-naskah penulis setelah kemerdekaan. Apalagi ketika sebuah lembaga kerakyatan atau Lekra dibuat sesuai dengan cita-cita ketika realisme sosial disebarluaskan di Rusia, bahwa sebuah kultur para pencipta-disini adalah perumpamaan buruh yang saya kutip dari Gorky- perlu digaungkan dan disebarluaskan. Nilai-nilai yang membantu sebuah revolusi dapat berlanjut serta terlaksana. Dan disini lembaga Lekra ini meski tidak mendapuk sebagai pemakai realism sosial, kebanyakan karyanya dapat dimasukkan jenis genre ini.

Tetapi disini saya tidak serta merta untuk menyamakan berbagai hal dengan Rusia mengenai sastra-sastra ini. Karena lawan yang dihadapi pun berbeda selain itu corak kulturnya juga berbeda. Rusia melawan Tsar demi revolusi kemerdekaan proletar, Indonesia melawan kolonialisme Belanda demi revolusi kemerdekaan nasional atau dalam hal ini seluruh bangsa yang tertindas mendiami nusantara. Meskipun begitu kedua-duanya sama-sama menyuarakan perjuangan pembebasan walau tokoh-tokoh yang menjadi peran sentral dalam kerja revolusioner dalam teks narasi untuk membawa cerita yang membuat pembaca terilhami sebuah nilai yang membuatnya bertindak berbeda.

Baca Juga : Pendidikan Akan Pengertian Pendidikan

Kesimpulan

Kemunculan sastra merupakan sebuah gambaran realitas, dalam usahanya Gorky lewat majelis penulisnya yang setiap penulis Rusia setelah terjadi revolusi proletar mampu untuk mengampu seratus ribu pembaca menurut Gorky tetap dirasa kurang karena ketika itu terdapat sebuah negara kecil di Eropa yang mana setiap penulis dalam perbandingan dengan jumlah penduduk mampu mengampu 300an orang. Maka apa yang diusahakan Lekra bisa dikatakan harus dilanjutkan. Karena sesuai yang dianut Gorky dan juga diikuti Lekra, sastra tidak bisa dipisahkan dari realitas dalam pembuatannya, dan realitas yang tersusun dari masyarakat berikut kompleksitas ekonomi dan politiknya turut serta disana. Sehinga sebuah tingkat kemunculan banyaknya jenis suatu genre sastra dapat menunjukkan suatu relasi material kebudayaan masyarakatnya terhitung dari berbagai variable pola kepopuleran terhadap pembaca maupun tingkat banyaknya penulis yang menulis jenis genre. Seperti yang nampak dari alur sebuah pergerakan masyarakat diikuti berbarengan dengan sastra yang satu sama lain dapat saling mempengaruhi.

Baca Juga :  Filsafat Ilmu

Sumber

Gorky, Maxim. “Soviet Literature.” Marxists Internet Archive. 2004. https://www.marxists.org/archive/gorky-maxim/1934/soviet-literature.htm (accessed Desember 6, 2018).

Heryansyah, Tedy. Karakteristik Karya Sastra Indonesia Tiap Angkatan. April 20, 2018. https://blog.ruangguru.com/karakteristik-karya-sastra-indonesia-tiap-angkatan (accessed Desember 6, 2018).

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *