Samin, Pemikiran dan Tindakan

Diposting pada

samin

Cukup terkenal setelah insiden dengan pabrik semen di pegunungan Kendeng kemarin. Masyarakat samin menolak pembangunan pabrik tersebut dengan berdemonstrasi di depan istana negara oleh perwakilannya. Tetapi namanya telah ada jauh sebelum itu, samin atau yang oleh masyarakatnya sendiri lebih senang menyebut mereka dengan nama sikep karena nama samin oleh masyarakat lainnya adalah berarti orang-orang yang membangkang dan tidak mau menerima modernisasi sehingga saya akan sering menyebutkan dua kata itu yang berarti sama.

Jokowi, Butet dan para ahli-ahli peneliti banyak yang berdatangan ke desa-desa orang Samin karena pilihan mereka untuk meneruskan ajaran dari dulu mereka. Kehidupan sederhana dan usaha mereka untuk menjaga alam agar tidak tereksploitasi berlebihan menarik orang-orang untuk datang.

Jokowi ke Samin

Sejarah Samin

Sebenarnya mengenai sejarah suku ini secara sekilas saya tulis di tulisan Gerakan Kejawen Penentang Belanda. Karena memang masyarakat ini muncul dari sebuah gerakan untuk menentang Belanda yang saat itu pajaknya sangat membebani para petani. Oleh Raden Kohar yang berganti nama di saat dewasa menjadi Samin Surosentiko, dia yang berasal dari keluarga yang bisa dikatakan berada karena masih memiliki nama kraton. Merasa miris melihat nasib petani saat itu yang karena Belanda telah mengeskploitasi semuanya dan menambah beban dengan pajak yang tinggi.

Surosentiko pada umur ke 31 tahun 1890 mengajak masyarakat khususnya para petani yang tertindas untuk melakukan boikot terhadap Belanda. Perlawanan yang ia ajarkan bukan dengan kekerasan melainkan dengan swadaya alias mereka tidak mau membayar apapun kepada Belanda dan mencukupi kebutuhan mereka dengan bekerja sendiri sesuai kebutuhan mereka. Awalnya pergerakan yang dilakukan Surosentiko kurang mendapat perhatian oleh Belanda, tetapi lama-kelamaan ajaran Surosentiko menyebar dan mendapatkan massa lebih dari para petani yang merasa sudah muak dengan peraturan Belanda.

Belanda melihat adanya ancaman karena gerakan ini walaupun perlawanan mereka tidak fisik tetapi apabila lebih banyak lagi masyarakat yang mengikuti ini maka Belanda tidak akan mendapatkan setoran pajak ataupun bahan pangan. Gerakan tanpa kekerasan ini di dunia lebih dikenal dipimpin oleh Ghandi atas penderitaan masyarakat India oleh kesewenangan Inggris dan Martin Luther King yang mewakili minoritas kulit hitam di Amerika sana. Padahal di Indonesia sendiri sudah ada model gerakan tanpa kekerasan yang berhasil dilakukan sebelum itu. Meskipun akhirnya Surosentiko pemimpinnya kemudian ditangkap oleh Belanda dan dibuang di Padang, Sumatera sana.

Gerakan yang digalakkan Gandhi di India bermodelkan mirip dengan apa yang dilakukan Samin Surosentiko. Gandhi yang juga miris dengan keadaan bangsanya yang tertindas di rumah sendiri oleh orang Asing. Dan melihat bahwa jawaban dari hilangnya kesengsaraan bangsanya sendiri adalah mengikuti ajaran dari leluhurnya, yang tidak melawan dengan kekerasan sama seperti Surosentiko tadi.

Gandhi berhasil mengalahkan Inggris tanpa jalan kekerasan, mereka juga mengusung swadaya. Karena menurutnya kebutuhan manusia tidak melulu terlalu banyak dan muluk-muluk. Sayang Surosentiko ditangkap dan dibuang, tetapi peninggalan ajarannya masih digunakan oleh beberapa masyarakat yang masih menganutnya.

Baca Juga :


Perang Diponegoro

Revolusi Kaum Proletar

Manfaat Mempelajari Sejarah

Ajaran Samin

Pengaruh dan ajaran Surosentiko sampai sekarang masih dianut oleh masyarakatnya, ajarannya berisi mengenai tujuan hubungan manusia dengan alam sekitarnya dan manusia lainnya. Bagaimana harus berbuat dan apa yang perlu dilakukan. Surosentiko sendiri mengambil ini dari ajaran jawa dan oleh Surosentiko iya kembalikan lagi karena disaat itu ajaran jawa malah lebih memberikan situasi yang pantas kepada para petani.

Ketika saya berada di salah satu desa Samin yang berada di desa Karangpace, Blora. Memang benar terlihat rumah-rumahnya masih rumah kayu yang tidak diberi pintu karena kepercayaan atas sedulur (saudara) antara satu sama lain mereka membuat mereka tidak perlu mencurigai sesama. Itu adalah juga berasal dari ajaran yang dulu disebarkan oleh Surosentiko, tidak boleh iri, tidak boleh dengki, tidak boleh bermusuhan. Mereka percaya bahwa dengan cukup bertani saja mereka sudah tercukupi kebutuhannya tidak lebih. Karena mereka anggap jika mereka selalu ingin sesuatu itu akan membuat mereka semakin menginginkan yang lainnya dan itu bukan ajaran yang mereka terima.

Keteguhan mereka memegang ajaran tersebut sampai sekarang terus terlaksana. Dalam kasus pabrik semen kemarin, mereka menganggap hal itu akan merusak keseimbangan tanah yang ada dan hal itu dapat menghancurkan manusia-manusianya. Penggerak dari gerakan melawan pembangunan pabrik semen itu diprakarsai orang sikep yang berada di desa Sukolilo Rembang bernama Gunretno.

Ketika saya tanya perihal hal tersebut terhadap Pak Lasio yang menjadi tokoh di desa Karangpace di Blora yang saya kunjungi. “Terserah keputusan yang dihasilkan apa tetapi dia anggap semuanya tetap saudara”, dia tidak menentang maupun menolak pembangunan pabrik semen tersebut. Berbeda dengan saudara sikepnya yang berada di desa Sukolilo tadi. Tetapi meskipun begitu mereka tetap satu saudara sikep begitu katanya.

Dalam hal agama mereka tidak memeluk apapun agama, karena mereka lebih mementingkan perbuatan dalam kebaikan. Dan semua agama berarti kebaikan tidak peduli agama apapun. Bahkan mereka juga telah mendapatkan tempat sebagai perkumpulan yang diakui oleh negara dan badan pengurus hak asasi manusia. Jadi sebagai warga negara suara mereka seharusnya juga diperhitungkan.

Karena merekalah orang-orang yang paling peduli dengan lama sekitarnya, mereka lebih mementingkan berada di sekitar hutan jati mereka daripada di tengah hiruk pikuk modernitas, lebih menyukai persaudaraan daripada kompetisi. Sama seperti gerakan konservatif yang dicanangkan oleh Aldo Leopold seorang penggalang gerakan konservasi alam yang terkemuka di Amerika sana. Bahwa keseimbangan alam itu diperlukan. Dan orang-orang samin ini melakukannya sedari dulu.

Samin dalam mata masyarakat sekarang

Memang dalam mata masyarakat samin, berarti orang-orang yang membangkan, lugu dan polos. Coba saja cari cerita lucu orang samin di internet pasti banyak kisah mengenai mereka ketika berdialog dengan orang maupun ketika sedang berada di kota. Bukan bermaksud seperti apa atau bagaimana tetapi seharusnya kesederhanaan mereka patut dihormati. Mereka bisa saja keluar dari desa mereka dan mengikuti lainnya tetapi tidak, mereka memilih tetap meneruskan ajaran mereka.

Tetapi saat di desa itu saya tidak melihat adanya anak muda sikep berada disana, malah dari desa di sekitar Blora yang bukan desa samin sering kesana saat sore hari di bagian pendopo untuk sekedar berkumpul dengan teman-temannya. Kata mereka tentram begitu, tetapi ketika ditanya mengenai sejarah ataupun sesuatu mengenai pergerakan mereka, mereka tidak tahu menahu malah.

Bukan menyalahkan hanya saja mereka tinggal dekat mereka, seharusnya sekedar mengetahui sejarahnya pun mereka ikut membantu mengingat bahwa di tanah mereka pernah ada pahlawan yang berani menentang Belanda di saat yang lain tidak. Tetapi mereka merasa nyaman dengan membuat tempat itu sebagai tempat untuk berkumpul, kerena lumayan tidak terdengar hiruk pikuk kendaraan yang membisingkan.

Dan orang-orang samin ini adalah orang yang berusaha untuk menjaga alam dengan tidak mengeruknya sesuka hati dengan ketamakan dan kerakusan manusia. Dibuktikan dengan penolakan pembangunan semen yang menurut mereka bakal merusak alam, mereka tahu bahwa mereka seharusnya menjaga alam karena mereka membutuhkannya dan tidak mengambil seenaknya karena jika telah tereskploitasi hingga habis apa yang dapat kita lakukan?

Sama seperti yang dikatakan oleh Aldo Leopold bahwa ada yang lebih memilih untuk menjaga alam lebih dari apapun, samin pun demikian mereka lebih senang menjaga alam dan persaudaraan mereka. Hingga bahkan saudara sikep mereka yang dibuang bersama Surosentiko di Sumatera pun mereka datangi untuk menyambung tali yang sempat putus. Jokowi pernah kesana untuk bertama, dan Butet seorang seniman itu sudah tiga kali menemui orang-orang samin. Keberanian mereka untuk melawan arus modernitas yang merusak memang menarik untuk diketahui lebih dekat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *